Di Balik Gunungan Sampah Muara Jawa, Kisah Nur Aini Mengais Rezeki untuk Keluarga

  • 29 Jul 2026 17:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Muara Jawa - Matahari baru saja menyembul di ufuk timur ketika sebuah truk sampah berhenti di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Belum lama bak truk terangkat, Nur Aini sudah berdiri di samping gunungan sampah dengan sebuah karung besar di tangan.

Tangannya bergerak cepat memilah plastik, besi tua, kardus, hingga sampah organik yang masih memiliki nilai ekonomi. Bau menyengat yang menusuk hidung seolah tak lagi ia hiraukan. Bagi sebagian orang, tumpukan sampah adalah sumber penyakit yang harus dijauhi. Namun bagi perempuan berusia 48 tahun itu, tempat tersebut telah menjadi ruang hidup sekaligus sumber penghidupan selama lebih dari tiga belas tahun.

Sejak 2013, perempuan asal Nusa Tenggara Timur itu menggantungkan nafkah dari aktivitas memulung di TPST 3R Muara Jawa. Setiap hari ia mulai bekerja ketika matahari terbit. Tidak ada jam pulang yang pasti. Saat volume sampah sedang tinggi, ia memilih bertahan hingga sore demi memilah lebih banyak material yang masih bisa dijual.

"Kalau semangat, pendapatan juga lebih banyak. Semakin banyak sampah yang dipilah, semakin banyak uang yang didapat," ujarnya.

Dalam sehari, puluhan kilogram sampah berhasil ia kumpulkan. Besi tua menjadi buruan utama karena memiliki harga jual yang lebih tinggi. Belakangan, sampah organik juga menjadi incaran karena memiliki nilai ekonomi melalui proses pengolahan lebih lanjut.

Pendapatan yang diperolehnya memang tidak pernah pasti. Harga material daur ulang kerap berubah mengikuti pasar. Namun dalam kondisi normal, penghasilannya dapat mencapai sekitar Rp5 juta per bulan.

Hasil itu ia gabungkan dengan penghasilan suaminya yang juga bekerja sebagai pemulung. Dari pekerjaan yang selama ini dipandang sebelah mata, pasangan tersebut berhasil memiliki dua rumah sederhana, dua sepeda motor, hingga menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Dulu saya juga memulung di Jakarta, di Bantar Gebang. Sampahnya memang banyak, tapi hidup tidak tenang dan susah menabung. Di Muara Jawa hasilnya lebih terasa," katanya.

Melawan Stigma dan Bertaruh dengan Risiko

Meski kehidupan ekonominya berubah, pandangan sebagian masyarakat terhadap profesinya belum sepenuhnya berubah. Tidak sedikit orang yang menyarankannya berhenti memulung karena pekerjaan itu dianggap identik dengan kemiskinan.

Namun Nur Aini memilih menjawab stigma itu dengan kerja keras.

"Saya tidak malu. Ini pekerjaan halal, bukan mencuri. Dari pekerjaan ini saya bisa menyekolahkan anak dan memperbaiki kehidupan keluarga," ujarnya.

Bagi Nur Aini, pekerjaan bukan soal gengsi, melainkan tentang tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.

Di balik penghasilan yang diperoleh, pekerjaan itu menyimpan risiko yang tidak sedikit.

Setiap hari, tangannya harus mengaduk tumpukan sampah tanpa mengetahui apa yang tersembunyi di dalamnya. Pecahan kaca dan besi-besi tajam menjadi ancaman yang paling sering ia temui. Meski sejauh ini hanya mengalami luka ringan akibat benda tajam, ia tidak pernah menganggap remeh keselamatan kerja.

Yang paling ia khawatirkan justru gangguan pada saluran pernapasan.

Karena itu, sebelum mulai bekerja, ia selalu mengenakan masker, topi, pakaian lengan panjang, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu bot. Ia juga menjaga pola makan serta memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif sebagai bentuk perlindungan apabila sewaktu-waktu membutuhkan layanan kesehatan.

"Di sampah memang banyak bakteri dan kuman. Makanya saya harus menjaga kesehatan," katanya.

Dari Sampah Menjadi Harapan

Perubahan yang dialami Nur Aini tidak hanya datang dari aktivitas memulung. Ia kini menjadi bagian dari Program BIOKOSMO yang dikembangkan Kelompok Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB) bersama PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Program tersebut mengubah cara masyarakat memandang sampah organik. Jika sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan, kini limbah organik diolah melalui proses biokonversi menggunakan maggot menjadi produk bernilai ekonomi berupa pakan ternak, pelet ikan, dan pupuk organik.

Pengawas Lapangan GMJB, Muhammad Untung, mengatakan pengelolaan sampah tidak lagi hanya berbicara soal kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

"Melalui biokonversi, sampah organik yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung sektor perikanan, peternakan, dan hortikultura," ujarnya.

Setiap hari, TPST 3R Muara Jawa menerima sekitar 15 hingga 35 ton sampah. Sekitar 50 persen di antaranya merupakan sampah organik.

Sebelum pengelolaan dilakukan secara lebih terpadu, kawasan TPST sempat mengalami penumpukan sampah hingga menutup akses jalan masuk truk pengangkut. Kondisi tersebut perlahan berubah melalui kolaborasi antara GMJB, Pemerintah Kecamatan Muara Jawa, dan PHSS.

Ketua GMJB, Ahmad Taupik, mengatakan kemitraan tersebut tidak hanya memperbaiki sistem pengelolaan sampah, tetapi juga membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat.

Melalui perjanjian kerja sama, GMJB bertanggung jawab mengelola sampah organik melalui budidaya maggot dan pengomposan, sementara PHSS memberikan dukungan kelembagaan, penguatan kapasitas, serta pengembangan kemitraan.

Program BIOKOSMO kini mampu meningkatkan pendapatan empat pengelola yang berasal dari kelompok rentan hingga mencapai Rp144 juta per tahun secara kolektif. Selain menciptakan lapangan kerja baru, program ini juga berhasil mengurangi volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Community Development Officer Pertamina Hulu Sanga Sanga, Mega Mutiara Ikasari, mengatakan setelah berjalan sejak 2023, BIOKOSMO kini memasuki fase menuju kemandirian.

Pada 2026, fokus program diarahkan pada optimalisasi fasilitas budidaya maggot, perluasan kemitraan strategis, serta replikasi pengelolaan sampah ke berbagai institusi, termasuk lingkungan pendidikan. Tahun depan, BIOKOSMO ditargetkan berkembang sebagai center of excellence pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.

Martabat di Tengah Gunungan Sampah

Menjelang sore, truk terakhir meninggalkan TPST Muara Jawa. Nur Aini mengangkat karung berisi besi tua dan plastik hasil buruannya hari itu. Bajunya dipenuhi noda, sepatu botnya berlumur tanah, namun senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Banyak orang melihat gunungan sampah sebagai akhir dari sesuatu yang tak lagi berguna. Nur Aini melihatnya dengan cara berbeda. Di balik setiap karung yang ia angkat, ada harapan untuk masa depan keluarganya.

Karena itu, ketika ditanya apakah suatu hari nanti ia ingin berhenti menjadi pemulung, jawabannya datang tanpa ragu. "Saya masih mau memulung. Ini bukan pekerjaan yang hina, justru pekerjaan yang mulia. Dari pekerjaan ini saya bisa meningkatkan ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak sampai tinggi. Yang penting pekerjaan ini halal," kata Nur Aini tersenyum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....