TPST 3R Muara Jawa, Rumah Maggot yang Menjaga Lingkungan dan Menggerakkan Ekonomi

  • 29 Jul 2026 16:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Muara Jawa - Di sudut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Reduce, Reuse, Recycle (3R) Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB), Kutai Kartanegara, tumpukan sampah organik tak lagi identik dengan bau busuk dan pencemaran. Di tempat ini, sisa makanan, sayuran, hingga limbah dapur justru menjadi bahan baku untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).

Program biokonversi sampah organik tersebut mulai dikembangkan pada 2023 melalui Program BIOKOSMO. Bersamaan dengan itu dibangun workshop dan rumah budidaya maggot yang kini menjadi pusat pengolahan sampah organik di Muara Jawa.

Bagi masyarakat awam, maggot mungkin hanya dikenal sebagai larva serangga. Namun di tangan para pengelola TPST3R GMJB, makhluk kecil ini menjadi "pekerja" yang mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus: mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir serta menghasilkan produk bernilai jual.

Koordinator Pengelolaan Pupuk Organik TPST3R GMJB, Ahmad Mubarok, mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan lagi bagaimana membudidayakan maggot. Teknologi dan proses produksinya sudah berjalan dengan baik. Justru pekerjaan berikutnya adalah membangun rantai ekonomi agar hasil budidaya dapat diterima pasar lebih luas.

"Teknologinya sudah berjalan, produksi juga terus meningkat. Tantangan kami sekarang bagaimana memperluas pemasaran karena pengelolaan ini masih dilakukan secara mandiri dan belum berbentuk UMKM," ujarnya pada Rabu 29 Juli 2026.

Setiap hari, TPST3R GMJB menerima sekitar 15 hingga 35 ton sampah organik. Lebih dari 50 persen di antaranya kini berhasil diolah melalui budidaya maggot sehingga tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kemampuan larva BSF mengurai limbah organik memang luar biasa. Dalam kondisi ideal, satu kilogram maggot mampu menghabiskan sekitar dua hingga lima kilogram sampah organik setiap hari. Dengan kemampuan tersebut, ratusan kilogram maggot dapat mengolah berton-ton sampah yang sebelumnya hanya menumpuk dan membusuk.

Dampaknya langsung terasa pada lingkungan sekitar. Bau menyengat yang biasanya muncul dari pembusukan sampah berkurang drastis karena limbah organik segera dikonsumsi oleh larva. Populasi lalat liar juga menurun, sementara proses pembusukan terbuka yang menghasilkan gas metana dapat ditekan sehingga emisi gas rumah kaca ikut berkurang.

Namun manfaat program ini tidak berhenti pada aspek lingkungan. Dari proses biokonversi tersebut lahir produk-produk yang memiliki nilai ekonomi. Maggot dipanen sebagai pakan alternatif berprotein tinggi untuk sektor perikanan dan peternakan, sedangkan sisa media budidaya atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat maupun pelaku pertanian.

Inilah yang menjadi kekuatan utama program BIOKOSMO. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diproses menjadi komoditas bernilai ekonomi. Konsep ekonomi sirkular itu memungkinkan satu jenis limbah menghasilkan berbagai manfaat sekaligus, mulai dari pengurangan sampah, peningkatan kualitas lingkungan, hingga peluang usaha baru bagi masyarakat.

Meski demikian, Ahmad Mubarok menilai perjalanan program ini masih panjang. Agar manfaat ekonomi semakin besar, diperlukan perluasan pasar, penguatan kelembagaan, serta pembentukan unit usaha yang mampu mengelola hasil budidaya secara profesional.

Baginya, keberhasilan budidaya maggot tidak hanya dihitung dari banyaknya larva yang dipanen setiap hari. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan melalui inovasi yang sekaligus menciptakan peluang ekonomi.

Program BIOKOSMO yang dikembangkan Pertamina Hulu Sanga Sanga di TPST 3R Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB) dibangun melalui proses bertahap. Selama tiga tahun terakhir, program ini terus berkembang, mulai dari membangun infrastruktur hingga menghasilkan produk yang siap bersaing di pasaran.

Community Development Officer Pertamina Hulu Sanga Sanga, Mega Mutiara Ikasari, menjelaskan pengembangan program dimulai pada 2023 dengan memperkuat pondasi pengelolaan. Bersama kelompok pengelola, perusahaan menyusun konsep program sekaligus membangun fasilitas budidaya maggot sebagai pusat pengolahan sampah organik.

"Program BIOKOSMO mulai berjalan sejak 2023. Artinya, pada 2026 ini usianya sudah memasuki tahun ketiga," ujarnya.

Setelah infrastruktur dan sistem kerja terbentuk, pengembangan berlanjut pada 2024 dengan mengoptimalkan budidaya maggot serta pemanfaatan hasil biokonversi sampah organik. Limbah dapur dan sisa makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah, mulai dari kasgot sebagai pupuk organik, pupuk organik cair (POC), hingga maggot kering yang dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi sektor peternakan dan perikanan.

Memasuki tahun ketiga, fokus program bergeser pada peningkatan mutu produk. Pada 2025, pengelola menggandeng Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Produktivitas (BBPMP) Kalimantan Timur serta Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menguji kualitas produk melalui serangkaian pengujian laboratorium.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan produk pupuk organik yang dihasilkan memiliki kandungan yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Selain itu, karena seluruh proses pengolahannya menggunakan bahan organik tanpa campuran bahan kimia, pupuk tersebut dinilai mampu membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Program ini juga diarahkan untuk membangun ekonomi sirkular, di mana limbah yang semula tidak bernilai diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

"Kami melakukan uji kandungan produknya. Hasilnya cukup baik sehingga produk ini aman digunakan dan memiliki manfaat untuk tanaman maupun kondisi tanah karena sepenuhnya berbahan organik," kata Mega.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....