Dari Gunungan Sampah, Perempuan Manggar Menyalakan Harapan dengan Gas Metana
- 29 Jul 2026 16:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan - Asap tipis mengepul dari wajan berisi minyak panas, di sebuah dapur sederhana di Kampung Energi Waste to Energy for Community (Wasteco), kawasan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Balikpapan. Aroma keripik tempe yang baru saja diangkat, bercampur dengan harum brownies yang baru matang. Sulit dibayangkan, seluruh aktivitas memasak itu tidak menggunakan LPG, melainkan gas metana yang berasal dari tumpukan sampah.
Bagi sebagian orang, sampah identik dengan bau menyengat dan pencemaran. Namun di TPAS Manggar, sampah justru menjadi sumber energi yang menghidupi ratusan keluarga dan membuka ruang ekonomi baru bagi perempuan.
Di balik aktivitas produksi itu, Norma Septiawati tampak sibuk mengawasi anggota UMKM Berkah Gas Metana (GaMe). Sejak 2022, ia bersama puluhan perempuan lainnya mengembangkan berbagai produk olahan makanan dan kerajinan dengan memanfaatkan gas metana sebagai sumber energi utama.
“Dulu waktu Covid-19, kami sempat bingung memikirkan ekonomi keluarga. Sampai akhir 2021 di TPAS Manggar ini ada kolaborasi dari Pertamina Hulu Mahakam, lalu kami dibina dan akhirnya membangun UMKM di tahun 2022,” kata Norma, sembari menggulung adonan mantau.
Sebelum menggunakan gas metana, biaya produksi menjadi salah satu tantangan terbesar. Untuk memenuhi kebutuhan memasak, pelaku UMKM harus membeli tiga hingga lima tabung LPG 3 kilogram setiap bulan. Dengan harga sekitar Rp35 ribu per tabung di pasaran, pengeluaran energi bisa mencapai lebih dari Rp175 ribu setiap bulan.
Kini, kondisi itu berubah drastis.
Mereka hanya membayar sekitar Rp10 ribu setiap bulan sebagai biaya perawatan jaringan pipa gas. Penghematan biaya energi mencapai sekitar Rp200 ribu setiap bulan. Uang yang sebelumnya habis untuk membeli gas kini dapat dialihkan menjadi tambahan modal usaha maupun membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pendapatan memang naik turun, tetapi sejak menggunakan gas metana saya bisa membantu ekonomi keluarga dan mulai menyisihkan uang untuk tabungan. Kalau biasanya habis 250 ribu per bulan, sekarang bisa irit 200 ribu rupiah,” ujar Norma.
Penghematan biaya produksi itu menjadi salah satu alasan, mengapa usaha para perempuan di kawasan TPAS Manggar terus bertahan. Saat ini terdapat 29 UMKM yang memanfaatkan gas metana. Sebanyak 90 persen anggotanya merupakan perempuan, mulai dari ibu rumah tangga hingga perempuan muda yang belum menikah.
“Kami membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi para perempuan yang ingin bergabung. Usaha ini memang kecil, tapi berkahnya sangat terasa,” kata Norma.
Mereka memproduksi beragam makanan ringan seperti keripik usus, mantau goreng, stik keju, keripik tempe, kacang disko, kacang sembunyi, kerupuk ikan, keripik pisang, amplang super, brownies, sate krispi, hingga tas belanja berbahan sampah daur ulang. Harga setiap produk pun bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000, sehingga dapat dijangkau berbagai kalangan konsumen.
Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Balikpapan.
Hasil produksi mereka telah menembus berbagai toko ritel, lobi hotel, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, bahkan dipasarkan hingga Kalimantan Selatan dan kalimantan Utara. Melalui berbagai pameran yang diselenggarakan instansi pemerintah, produk UMKM Berkah GaMe berhasil menarik minat wisatawan sekaligus membangun basis pelanggan tetap.
“Alhamdulillah, selalu ada pemasukan setiap bulan. Tapi semakin besar pemasukan, semakin besar juga produksi yang akan kami bikin selanjutnya. Karena ini membuat semangat ya, dapat cua dari usaha sendiri itu rasanya membanggakan sekali,” ujarnya.
Dalam satu kelompok usaha, omzet penjualan mampu mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta setiap bulan, dengan laba bersih rata-rata sekitar Rp10 juta. Seluruh proses produksi dilakukan secara rutin setiap minggu dan melibatkan banyak tenaga kerja perempuan. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat perjalanan panjang pengembangan gas metana di TPAS Manggar.
Ketua Kelompok Pengelola Distribusi Gas Metana, Karti, menjelaskan pemanfaatan gas metana sebenarnya telah dimulai sejak 2018 oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan. Namun, pengelolaannya saat itu belum berjalan optimal.
Perubahan besar terjadi pada 2021 ketika Dinas Lingkungan Hidup menggandeng Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Pengalaman perusahaan migas dalam menangkap dan mengalirkan gas kemudian diterapkan untuk mengelola gas metana yang terbentuk dari timbunan sampah.
“Dari teknologi Migas, gas metana itu ditangkap dan diolah kemudian mengubahnya menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Sebelumnya ada 4 RT yang teraliri dan dikenakan biaya pemeliharaan hanya 10 ribu rupiah,” kata Karti.
Melalui teknologi tersebut, jaringan pipa distribusi sepanjang 8.316 meter berhasil dibangun dan kini mengalirkan sekitar 68.400 meter kubik gas metana setiap bulan atau sekitar 2.247 meter kubik setiap hari.
Gas itu dimanfaatkan oleh 380 kepala keluarga serta 29 UMKM yang berada di empat rukun tetangga sekitar TPAS Manggar. “Sebenarnya iuran bulanan itu bukan sebagai beban pembayaran ya, itu sebagai iuaran untuk biaya perawatan kalau-kalau ada kerusakan pipa dan lain-lain,” ujarnya.
Di sisi lain, manfaat program ini tidak berhenti pada aspek ekonomi.
Lokal hero sekaligus inisiator pengelolaan gas metana dan program Wasteco, Suyono, menjelaskan TPAS Manggar menerima sekitar 385 hingga 480 ton sampah setiap hari. Hampir separuhnya, atau sekitar 49 persen, merupakan sampah organik yang menghasilkan gas metana selama proses pembusukan. Apabila tidak ditangkap, gas metana akan langsung terlepas ke udara sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca.
“Gas yang terbuang itu berbahaya, itu lah kenapa banyak TPAS di wilayah lain yang mudah terbakar. Di TPAS Manggar gas metana itu ditangkap. Kalau bisa diolah menjadi energi, kenapa dibiarkan. Kita kerjakan dalam program Wasteco dan hasilnya alhamdulillah,” kata Suyono menjelaskan.
Melalui tujuh zona penangkapan gas yang tersebar di lahan TPAS seluas sekitar 40 hektare, program Wasteco mampu menangkap sekitar 820.800 meter kubik gas metana setiap tahun.
Pemanfaatan gas tersebut sekaligus berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca hingga sekitar 812 ton ekuivalen karbon per hari atau setara sekitar 296.356 ton ekuivalen karbon setiap tahun.
“Kalau gas metana ini tidak ditangkap, dampaknya bukan hanya menimbulkan bau, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Karena itu, kami memanfaatkan sebagai energi yang bisa digunakan masyarakat untuk memasak,” ujar Suyono.
Bagi Suyono, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari panjangnya jaringan pipa atau banyaknya rumah yang menerima aliran gas metana. Lebih dari itu, ia berharap tumbuh kesadaran bahwa sampah dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan menjadi sumber daya yang bernilai. Ketika lingkungan terjaga dan masyarakat, khususnya perempuan, memperoleh manfaat ekonomi dari energi yang dihasilkan, maka tujuan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan beriringan.
“Itulah kenapa di TPAS manggar dibuat buferzona atau zona penyangga. Supaya aman dari ancaman kebakaran dan persoalan lingkungan. Zona-zona kosong ditanami tumbuhan hijau dan pepohonan, beberapa titik ada pohon sawit. Jadi udara yang dihadirkan juga segar, meski ada bau sampah yang cukup mengganggu,” katanya menjelaskan.
Sementara itu, Communication Relations & CID Pertamina Hulu Mahakam, Ahmad Krisna, mengatakan pemanfaatan gas metana di TPAS Manggar tidak hanya bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan bagi perempuan agar lebih mandiri secara ekonomi.
“90 persen pengelolaan gas metana ini dikelola oleh ibu-ibu. Mereka terbagi, dari pengelola gas metana, UMKM dan Bank Sampah. Mereka cekatan dan berdaya,” kata Krisna.
Namun, nilai terbesar dari program ini bukan semata menghadirkan energi memasak berbiaya rendah. Perempuan hadir sebagai aktor utama dalam pengembangan program karena mereka memiliki peran strategis dalam mengelola kebutuhan rumah tangga sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga. Dengan beban pengeluaran untuk energi yang jauh lebih ringan, perempuan memiliki kesempatan mengembangkan usaha rumahan, meningkatkan pendapatan, hingga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Ketekunan dan kreativitas mereka dalam mengelola usaha turut memperluas manfaat program, sehingga energi yang berasal dari sampah tidak hanya memberi nilai bagi lingkungan, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. "Ketika perempuan berdaya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Di TPA Manggar, tumpukan sampah tidak lagi sekadar menjadi akhir dari barang-barang yang dibuang masyarakat. Di tangan perempuan-perempuan Kampung Energi Wasteco, sampah menjelma menjadi nyala kompor, penggerak usaha, tambahan penghasilan keluarga, sekaligus harapan bahwa limbah pun dapat menghadirkan masa depan yang lebih hijau.
“Karena itu, kami berharap program ini terus berkembang, melahirkan semakin banyak perempuan yang mandiri, produktif, dan mampu menjadi penggerak ekonomi berbasis energi yang ramah lingkungan,” kata Krisna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....