Transformasi Digital Pulau Maratua Bantu Siswa Belajar dan Promosi Usaha

  • 11 Jun 2026 21:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Maratua - Pulau Maratua di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini menjadi salah satu keberhasilan transformasi digital di wilayah terluar Indonesia. Kehadiran infrastruktur yang dibangun Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terbukti mampu memecah kurangnya akses komunikasi dan mendorong kesejahteraan masyarakat setempat.

Salah satu siswa kelas 5 SD di Payung-Payung, Pulau Maratua Muhammad Zidni Alhafidz, menjadi potret nyata bagaimana akses internet membuka cakrawala pengetahuan bagi anak-anak di wilayah terluar Indonesia. Di tengah keterbatasan geografis, Zidni memanfaatkan teknologi informasi tidak hanya untuk hiburan, melainkan sebagai sarana penunjang pembelajaran di sekolah.

Saat diwawancarai RRI.co.id., Zidni menceritakan pengalamannya dalam memanfaatkan internet untuk menunjang pendidikannya. "Kalau buat belajar, saya carinya di aplikasi Dola AI ," ucap Zidni saat ditanya mengenai metode belajarnya. Ia menambahkan bahwa kemampuannya mengakses materi pelajaran melalui aplikasi tersebut sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Meskipun terkadang mengalami kendala teknis berupa buffering atau lag pada jaringan, Zidni mengaku internet tetap menjadi alat yang sangat krusial bagi kesehariannya. Di sisi lain, ia juga memanfaatkan internet untuk menyalurkan hobi, seperti bermain gim online dan menonton tayangan video sepak bola yang menjadi kegemarannya.

Harapan dan Cita-cita

Transformasi digital yang hadir di Pulau Maratua telah memberikan akses yang setara bagi anak-anak di perbatasan. Zidni, yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional, memanfaatkan internet untuk mencari referensi teknik bermain dari idolanya, Neymar.

Salah satu siswa kelas 5 SD di Payung-Payung, Pulau Maratua Muhammad Zidni Alhafid (Foto: RRI/ Ridzki).

Konektivitas di Maratua: Saat Bisnis Bergantung pada Sinyal

Aksesibilitas internet menjadi denyut nadi bagi roda ekonomi di Pulau Maratua, Kabupaten Berau. Bagi para pelaku usaha lokal, seperti pemilik cottage di wilayah Payung-Payung, stabilitas jaringan bukan sekadar kemudahan berkomunikasi, melainkan prasyarat mutlak untuk menjalankan operasional bisnis harian.

Salah satu pemilik penginapan di Maratua Abdul Gafar, mengungkapkan bahwa aktivitas usahanya sangat bergantung pada konektivitas digital, dengan adanya akses internet BAKTI AKSI dan BTS USO, ia mulai dari promosi hingga pemesanan kamar. "Kalau buat kumpul di depan (tempat usaha), biasanya yang dibuka bahkan ada juga pesen lewat WA jaringan pribadi," ujar Gafar saat ditemui di sela-sela aktivitasnya mendampingi rombongan BAKTI Komdigi. Ia pun tak menampik bahwa terkadang masih terjadi kendala jaringan yang membuat koneksi melambat atau lelet.

Bergantung pada Jaringan

Dalam menjalankan usahanya, Gafar mengakui bahwa ia harus beradaptasi dengan kondisi jaringan yang sering kali tidak menentu. Ketika jaringan sedang mengalami gangguan atau down, ia tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu pemulihan layanan.

Lebih lanjut, Gafar menjelaskan bahwa karakteristik jaringan internet di wilayahnya seringkali bersifat Maratua (tidak stabil), di mana koneksi bisa terkadang hilang karena kendala teknis. Hal ini sering kali menimbulkan kebingungan bagi para pelaku usaha yang sangat bergantung pada platform digital untuk melayani tamu atau mengelola administrasi penginapan.

Harapan Kehadiran Tower

Di tengah tantangan tersebut, Gafar sangat berharap pemerintah dapat segera merealisasikan penambahan menara pemancar (tower) di kawasan Payung-Payung. Menurutnya, hal tersebut akan sangat membantu efisiensi kerja para pelaku usaha dalam memberikan layanan informasi kepada tamu, serta memperlancar komunikasi yang selama ini sering terhambat.

"Pengennya ada tower di Payung-Payung, bagaimanapun caranya," ucap Gafar penuh harap. Ia menegaskan bahwa konektivitas adalah nyawa dari usaha yang ia geluti, mengingat seluruh informasi seperti harga dan reservasi penginapan kini bisa dilakukan sepenuhnya melalui layanan daring.

Salah satu pemilik penginapan di Pulau Maratua Abdul Gafar (Foto: RRI/ Ridzki)

Pihaknya berharap kolaborasi antara pemerintah dan penyedia layanan telekomunikasi dapat terus ditingkatkan agar kesenjangan digital di wilayah terluar seperti Maratua dapat segera teratasi, sehingga masyarakat lokal tidak lagi terkendala dalam mengembangkan potensi ekonomi mereka.

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, mengatakan bahwa tingginya utilisasi layanan internet di Maratua membuktikan kesiapan masyarakat di wilayah 3T dalam mengadopsi teknologi. "Pemanfaatan yang tinggi, terutama di sekolah dan kantor kampung, menunjukkan masyarakat Berau sudah sangat siap memanfaatkan dunia digital," ujar Darien di BTS USO Kampung Bohe Silian, Kamis 11 Juni 2026. Ia menambahkan, tugas pihaknya kini adalah memastikan akses tersebut hadir secara andal dan terus ditingkatkan kualitasnya.

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano (Foto: RRI/Defrico).

Konektivitas Berdampak Luas

Data menunjukkan, SD Negeri 001 Payung-Payung menjadi salah satu titik akses internet paling aktif di Kabupaten Berau dengan lebih dari 500 pengguna. Selain di sektor pendidikan, akses internet BAKTI AKSI dan BTS USO juga melayani kantor kampung serta Pos TNI Angkatan Laut di Maratua.

Transformasi digital ini telah menyentuh berbagai aspek krusial. "Kehadiran internet bukan sekadar akses informasi, tetapi jembatan bagi warga untuk mengakses pelatihan vokasi dan layanan publik secara cepat," kata salah satu tokoh masyarakat setempat saat menanggapi pertumbuhan ekonomi di wilayahnya. Tren pertumbuhan di Maratua memang cukup menjanjikan, di mana jumlah usaha penginapan kini mencapai 93 unit, jauh melampaui jumlah akomodasi di ibu kota kabupaten.

Penguatan Kedaulatan Negara

Keberhasilan digitalisasi di Maratua tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkuat kedaulatan negara melalui konsep security-prosperity nexus. Keberadaan konektivitas yang stabil di wilayah perbatasan antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina ini dinilai mampu menciptakan masyarakat yang sejahtera sebagai benteng sosial yang kuat.

Pemerintah pun menyadari adanya tantangan baru terkait tingginya trafik data. "Kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar transformasi digital tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga pengembangan literasi yang berkelanjutan," ucap Darien menutup keterangannya.

Langkah percepatan peningkatan kapasitas bandwidth kini mulai disiapkan bagi wilayah dengan utilisasi tinggi lainnya di Berau, seperti Teluk Sumbang dan Long Laai, guna memastikan pemerataan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....