Kisah Pelajar Marangkayu Menyeberangi Sungai Habitat Buaya Demi Bersekolah
- 03 Jun 2026 20:01 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kutai Kartanegara - Di tengah pesatnya pembangunan Kalimantan Timur, ternyata masih ada anak-anak yang harus mempertaruhkan keberanian setiap pagi demi bisa sampai ke sekolah. Pemandangan itu terlihat di Dusun Damai, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setiap hari sekolah, Ade Fahmi Maulana, siswa kelas V SD Negeri 021 Marangkayu, bersama adiknya Assyifa yang duduk di kelas III, harus menyeberangi Sungai Santan menggunakan kereta gantung sederhana. Bukan karena mereka ingin mencari jalan pintas.
Melainkan karena hingga kini belum ada jembatan yang menghubungkan permukiman mereka dengan wilayah di seberang sungai. Kereta gantung itulah yang menjadi akses tercepat bagi warga Dusun Damai.
Dari rumah, kakak beradik itu berjalan sekitar 200 meter menuju lokasi penyeberangan. Setibanya di sana, mereka naik ke atas kereta gantung berukuran sekitar 2,5 meter x 2 meter yang bergantung pada sling baja yang membentang di atas sungai. Untuk bergerak menuju seberang, mereka harus menarik tali tambang secara manual.
Di bawah mereka, Sungai Santan mengalir tenang. Namun warga sekitar mengetahui bahwa sungai tersebut merupakan habitat buaya. Karena itu, setiap perjalanan menyeberang selalu disertai kewaspadaan.
"Kalau hujan kami tunggu dulu sampai reda. Kalau air naik kadang takut juga, apalagi kalau ada buaya. Jadi harus waspada," ujar Ade kepada rri.co.id, Rabu 3 Juni 2026. Perjalanan itu memang hanya memakan waktu sekitar dua menit. Namun bagi anak-anak seusia mereka, perjalanan tersebut bukanlah sesuatu yang biasa.
Saat sebagian besar siswa berangkat sekolah melalui jalan darat yang aman, Ade dan Assyifa harus melintas di atas sungai yang menjadi habitat predator liar. Ketika cuaca memburuk atau debit air meningkat, risiko yang mereka hadapi juga semakin besar. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan memilih tidak berangkat sekolah demi keselamatan.
Meski demikian, semangat belajar keduanya tidak pernah surut. Sang ayah, Aceng Jainuddin, mengaku anak-anaknya justru sering memaksa tetap berangkat meski cuaca kurang bersahabat. "Kalau dilarang kadang sampai menangis karena ingin tetap sekolah. Mereka takut tertinggal pelajaran," katanya.
Kondisi yang dialami Ade dan Assyifa bukan hanya dirasakan oleh keluarga mereka. Anak-anak lain di Dusun Damai juga harus menggunakan jalur yang sama untuk menuju sekolah. Bagi masyarakat setempat, kereta gantung bukan sekadar sarana penyeberangan. Fasilitas sederhana yang dibangun secara swadaya itu telah menjadi urat nadi kehidupan warga.
Selain digunakan pelajar, kereta gantung juga menjadi jalur pengangkutan hasil panen kelapa sawit dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kepala SD Negeri 021 Marangkayu, Badil, mengatakan pihak sekolah memahami tantangan yang dihadapi para siswa dari Dusun Damai.
Karena itu, sekolah memberikan toleransi apabila siswa terlambat akibat cuaca atau kondisi sungai yang tidak memungkinkan untuk diseberangi. "Kalau memang kondisi cuaca tidak memungkinkan, kami berikan kebijakan pembelajaran secara online agar mereka tetap bisa mengikuti pelajaran," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengatakan kebutuhan akan akses penyeberangan yang lebih aman sudah lama menjadi harapan masyarakat. Pemerintah desa telah mendorong pembangunan jembatan gantung permanen. Namun hingga kini rencana tersebut masih terkendala regulasi karena lokasi pembangunan berada di kawasan hutan lindung.
"Kami berharap pembangunan jembatan gantung bisa segera direalisasikan demi keselamatan masyarakat, terutama anak-anak yang setiap hari harus menempuh perjalanan berisiko untuk mendapatkan pendidikan," katanya.
Di saat Kalimantan Timur terus berkembang dan menjadi sorotan nasional, kehidupan anak-anak di Dusun Damai menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Setiap pagi, Ade dan Assyifa tetap mengenakan seragam sekolah mereka. Mereka berjalan menuju tepian Sungai Santan, menaiki kereta gantung, lalu menyeberang di atas sungai yang dihuni buaya.
Bagi mereka, perjalanan itu sudah menjadi rutinitas. Namun bagi banyak orang, pemandangan anak-anak sekolah dasar yang harus melintasi habitat buaya demi mendapatkan pendidikan mungkin masih sulit dipercaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....