Lest We Forget: Pasir Ridge Menyimpan Suara Sejarah Perjuangan yang Sunyi
- 30 Apr 2026 21:32 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan - Di Balikpapan, sebelum kota benar-benar terbangun, ada satu momen yang selalu datang lebih dulu daripada hiruk-pikuk aktivitas hari ini: fajar yang pelan, sunyi yang tebal, dan cahaya kecil yang menyala di Kompleks Pasir Ridge. Di tempat inilah, Sabtu 25 April 2026, Dawn Service ANZAC Day kembali digelar, bukan sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Gelap belum sepenuhnya pergi ketika orang-orang mulai berdiri dalam diam. Tidak ada panggung yang riuh, tidak ada sambutan panjang yang berlebihan. Hanya keheningan yang terasa sengaja dibiarkan berbicara. Di tengahnya, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, hadir bersama perwakilan pemerintah Indonesia, TNI, SKK Migas, Pemerintah Kota Balikpapan, serta berbagai lembaga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kota ini.
Upacara itu diselenggarakan oleh PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) bersama Kedutaan Besar Australia di Indonesia. Namun di balik formalitasnya, ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah ruang untuk mengingat.
ANZAC Day setiap 25 April selalu membawa cerita tentang prajurit Australian and New Zealand Army Corps yang mendarat di Gallipoli tahun 1915. Banyak yang tidak kembali, banyak pula yang namanya kini hanya tinggal catatan sejarah. Tetapi di Balikpapan, ingatan itu tidak berhenti di sana.
Ia menemukan lapisan lain tentang 229 prajurit Australia yang gugur dalam Operasi Oboe Two pada Juli 1945, saat kota ini menjadi salah satu titik penting dalam Perang Dunia II di wilayah Pasifik.
Di tempat yang sama, di tanah yang kini lebih dikenal sebagai kawasan energi dan industri, pernah terjadi pertempuran yang menentukan arah sejarah. Kini, tidak ada lagi dentuman senjata. Hingga yang tersisa adalah monumen, ingatan, dan kesadaran bahwa perdamaian tidak pernah datang tanpa harga.
Monumen Tank Matilda yang berdiri di kawasan Pasir Ridge menjadi saksi yang tak pernah benar-benar diam. Besi yang telah berkarat waktu itu bukan lagi simbol perang, tetapi simbol perubahan: dari konflik menuju refleksi, dari perebutan menuju penghormatan.
Ketika matahari mulai naik perlahan, cahaya pertamanya jatuh di atas para peserta upacara yang berdiri dalam diam. Di momen itu, tidak ada perbedaan bahasa yang terasa penting. Tidak ada sekat negara yang tampak dominan, yang ada hanya manusia yang sama-sama berhenti sejenak untuk mengingat mereka yang telah pergi jauh sebelum hari ini ada.
“ANZAC Day bukan hanya tentang mengenang mereka yang telah gugur, tetapi juga tentang nilai-nilai yang mereka perjuangkan: keberanian, ketahanan, persahabatan, dan pengorbanan yang hingga kini terus menghubungkan masyarakat Australia dan Indonesia,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier.
Kalimat itu tidak terdengar seperti pidato. Ia lebih seperti pengingat pelan, bahwa sejarah bukan sesuatu yang selesai ditulis, tetapi sesuatu yang terus hidup dalam cara manusia saling memahami.
General Manager PHKT, Darmapala, menyebut keterlibatan berbagai pihak dalam peringatan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga upaya menjaga kesinambungan ingatan sejarah di ruang yang kini menjadi bagian dari kehidupan modern Balikpapan.
“PHKT berkomitmen untuk terus mendukung sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus melestarikan kawasan bersejarah ini,” ujarnya.
Namun di luar pernyataan resmi itu, ada hal yang lebih sulit diucapkan: bahwa tempat ini menyimpan cerita tentang kehilangan yang tidak selalu tercatat lengkap dalam buku sejarah. Cerita tentang manusia, tentang perang, dan tentang bagaimana sebuah kota tumbuh di atas lapisan waktu yang kompleks.
Prosesi penyerahan karangan bunga menjadi salah satu momen paling hening dalam upacara tersebut. Bunga-bunga itu tidak hanya diletakkan, tetapi seperti dititipkan sebagai simbol bahwa ada yang tidak boleh dilupakan, meski waktu terus berjalan.
Ketika semua rangkaian selesai, tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tanda akhir yang tegas. Hanya keheningan yang kembali mengambil alih, seperti menutup sebuah percakapan panjang yang tidak semua orang perlu mengucapkannya dengan kata-kata.
Di akhir upacara, frasa itu kembali terdengar, pelan namun pasti: “Lest We Forget.” Agar kita tidak lupa.
Tidak lupa pada mereka yang gugur. Tidak lupa pada sejarah yang pernah berdarah, dan tidak lupa bahwa perdamaian yang hari ini dinikmati adalah sesuatu yang lahir dari masa lalu yang tidak sederhana. Di Pasir Ridge pagi itu, sejarah tidak terasa jauh. Ia hadir begitu dekat—seperti angin fajar yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....