Samboja Lestari Terdesak: Hutan Menyusut, Habitat Orangutan di Ambang Krisis
- 30 Apr 2026 16:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samboja - Tekanan terhadap kawasan Samboja Lestari di Kecamatan Samboja Barat kian mengkhawatirkan. Hutan yang selama ini menjadi ruang hidup dan tempat rehabilitasi orangutan perlahan menyusut, terhimpit aktivitas ilegal dan konflik lahan yang tak kunjung terselesaikan.
Di kawasan ini, ratusan orangutan bergantung pada satu hal yang sama: hutan yang utuh. Namun, ruang itu kini terus tergerus.
Manajer Program Regional Kalimantan Timur Borneo Orangutan Survival Foundation, Aldrianto Priadjati, menyebut ancaman terhadap kawasan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan sudah sistematis dan berlangsung lama.
Salah satu yang paling mencolok adalah praktik jual beli lahan di dalam kawasan konservasi. Lahan yang seharusnya dilindungi justru berpindah tangan tanpa dasar hukum yang sah. “Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini ancaman langsung terhadap habitat,” kata Aldrianto, 29 April 2026.
Kasus tersebut bahkan telah masuk ke ranah hukum sejak 2017. Namun, putusan di tingkat banding yang memangkas hukuman terdakwa dinilai belum mencerminkan dampak besar yang ditimbulkan. Pihak pengelola kini menempuh upaya kasasi, berharap ada keadilan yang sepadan dengan kerusakan yang terjadi.
Modus yang digunakan terbilang sederhana, namun berdampak luas. Lahan dijual hanya dengan kuitansi, tanpa legalitas, dengan harga murah. Dari transaksi seperti inilah perambahan meluas, perlahan tapi pasti menggerogoti kawasan konservasi.
Di saat yang sama, ancaman lain datang dari luar: ekspansi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas tambang batu bara ilegal yang mulai masuk ke dalam lanskap hutan. Beberapa titik bahkan telah berubah fungsi, dari hutan menjadi lahan produksi.
Situasi ini menciptakan tekanan berlapis. Ketika hutan menyempit, orangutan kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung. Pada titik tertentu, mereka terpaksa keluar dari habitatnya.
“Konflik dengan manusia itu bukan tiba-tiba. Itu akibat habitatnya hilang,” ujar Aldrianto.
Upaya penyelesaian sebenarnya telah dilakukan, mulai dari mediasi hingga pelaporan kepada aparat. Namun, minimnya tindakan tegas membuat persoalan terus berulang, bahkan meluas.
Persoalan kian rumit dengan adanya tumpang tindih klaim lahan dari berbagai pihak. Sejumlah izin, mulai dari hak pengelolaan hingga perkebunan, saling bersinggungan di atas kawasan yang sama. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian hukum dan melemahkan perlindungan terhadap hutan.
Akibatnya, luas kawasan yang memiliki kepastian legal terus berkurang. Sebagian bahkan telah hilang dari penguasaan, membuka ruang baru bagi perambahan. Di lapangan, tekanan itu nyata. Hutan terfragmentasi, jalur jelajah satwa terganggu, dan risiko konflik meningkat.
Sebagai langkah darurat, pengelola kawasan memperketat patroli. Namun, upaya ini diakui tidak cukup jika tidak diikuti penegakan hukum yang kuat dan kejelasan status lahan.
Samboja Lestari bukan sekadar lokasi rehabilitasi. Ia adalah benteng terakhir bagi kelangsungan hidup orangutan di tengah derasnya ekspansi industri. Jika tekanan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya hutan—tetapi juga masa depan satwa yang bergantung sepenuhnya pada keberadaannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....