Anyaman Asa dari Segah: Cerita Ibu Ros dan Harapan di Balik Rotan

  • 29 Apr 2026 20:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau - Suasana di Kantor BKKBN Kecamatan Segah siang itu terasa berbeda. Tangan-tangan yang beberapa hari terakhir sibuk meraut dan menganyam rotan kini mulai beristirahat. Namun semangat para peserta pelatihan justru belum surut. Dari sela-sela kegiatan penutupan, terselip cerita tentang harapan, keterampilan baru, dan mimpi yang perlahan mulai dirajut.

Salah satunya datang dari seorang peserta bernama Ros. Wajahnya tampak sumringah saat menceritakan pengalamannya mengikuti pelatihan kerajinan anyaman rotan yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dekranasda.

“Selama pelatihan ini, kami benar-benar mendapatkan banyak ilmu. Kalau ada yang belum kami pahami, kami bisa langsung bertanya. Suasananya juga menyenangkan, jadi kami tidak sungkan untuk belajar,” ucapnya dengan penuh antusias.

Bagi Ros, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, ia melihat adanya peluang nyata untuk mengembangkan keterampilan menjadi sumber penghasilan baru. Ia mengaku, ilmu yang diberikan instruktur membuka wawasannya tentang bagaimana rotan dapat diolah menjadi produk bernilai jual.

“Dengan pengalaman ini, kami jadi tahu banyak hal yang sebelumnya tidak kami mengerti. Harapannya, apa yang sudah diajarkan bisa terus kami praktikkan dan kembangkan ke depan,” ujarnya.

Namun di balik semangat itu, terselip pula tantangan yang dihadapi para perajin pemula. Keterbatasan alat menjadi salah satu kendala utama yang dirasakan Ibu Ros dan peserta lainnya.

“Kami sebenarnya sudah bisa menganyam, tetapi masih terbatas dengan peralatan, seperti alat untuk meraut rotan. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah atau pihak terkait, agar kami bisa terus berkarya,” katanya.

Ia juga berharap pelatihan yang telah dilaksanakan tidak berhenti begitu saja, melainkan berlanjut dengan pendampingan dan dukungan nyata. Menurutnya, kesinambungan program menjadi kunci agar keterampilan yang telah diperoleh tidak hilang begitu saja.

“Jangan sampai pelatihan ini sia-sia. Kami ingin bisa terus mengembangkan hasil anyaman ini, bahkan kalau bisa dipasarkan, baik melalui BUMK maupun ke pasar yang lebih luas,” ucap Ros berharap.

Cerita Ros menjadi gambaran kecil dari besarnya potensi kerajinan rotan di Kecamatan Segah. Di balik setiap anyaman, tersimpan ketekunan, harapan, dan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pelatihan ini pun tak hanya meninggalkan produk kerajinan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri para peserta. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka mampu melangkah lebih jauh menjadikan rotan bukan sekadar bahan alam, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi. (DiskominfoBerau-IKP/Er)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....