Samarinda Graphic Memoir Exhibition Sajikan Memori Kota Tepian yang Mulai Hilang

  • 20 Apr 2026 07:39 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Lebih dari 200 karya dari 20 kreator lokal merekam wajah Samarinda dari sudut pandang yang jarang terdokumentasi. Ratusan karya itu dipamerkan dalam Samarinda Graphic Memoir Exhibition 2026 yang digelar selama delapan hari, mulai 11–19 April 2026, di Samarinda Design Hub, Jalan Wahid Hasyim II, TVRI Graha Asri 4A.

Penyelenggara sekaligus kurator, Ramadhan S. Pernyata, menyebut pameran ini secara khusus mengangkat cerita tentang Samarinda dari pengalaman personal para partisipan.

“Ini pameran yang menceritakan kenangan-kenangan Kota Samarinda dari masing-masing partisipan. Jadi memang kami batasi hanya tentang Samarinda,” ujarnya, dikutip pada Senin, 20 April 2026.

Beragam cerita diangkat, mulai dari makanan khas, landmark, hingga pengalaman masa kecil di Kota Tepian yang kini mulai berubah atau bahkan hilang. Menggunakan medium gambar, Ramadhan berharap pesan yang ingin disampaikan kreator dapat menjangkau lintas generasi, sekaligus menjadi jembatan pengetahuan antara generasi lama dan generasi muda.

“Banyak objek yang digambar itu dikenal generasi X dan Boomers, tapi generasi sekarang sudah tidak tahu. Ini jadi jembatan pengetahuan,” kata dia.

Sebagai contoh, sejumlah objek seperti taksi jamban, patung pesut, hingga profesi tukang servis jam di kawasan Citra Niaga yang dulu mudah ditemui, tetapi kini sudah jarang. Padahal menurut Ramadhan, hal-hal tersebut merupakan bagian dari identitas kota.

Pameran ini juga memperlihatkan cerita tentang kota tidak selalu harus datang dari catatan resmi, melainkan bisa dibangun dari pengalaman warganya sendiri. Ramadhan menyebut pendekatan ini sebagai bentuk “etnografi visual”, yakni pencatatan budaya melalui gambar-gambar bercerita.

Selama penyelenggaraan, pameran ini mencatat hampir 400 pengunjung, dengan mayoritas berasal dari generasi Z dan milenial. Ramadhan mengakui, salah satu tantangan terbesar adalah menerjemahkan pengetahuan generasi sebelumnya agar bisa dipahami generasi muda.

“Tantangannya itu gap-nya besar, bagaimana cerita generasi X dan Boomers bisa dipahami generasi Z dan Alpha,” ujarnya.

Meski begitu, Ramadhan menyebut, respons pengunjung sangat positif. Bahkan, banyak dari mereka penasaran terhadap berbagai objek yang sebelumnya tidak dikenal.

Ke depan, seluruh karya dalam pameran ini pun akan dibukukan menjadi katalog dan dikirim ke lembaga internasional sebagai bentuk dokumentasi. Namun Ramadhan berharap, katalog dokumentasi Samarinda ini juga dapat menarik minat perpustakaan lokal sehingga dapat memperkuat identitas Samarinda sebagai Kota Peradaban melalui perspektif warganya sendiri.

"Kita jadikan kompilasi katalog karya dan sudah ada link untuk diterbangkan ke Leiden dan Library of Congress Amerika. Perpustakaan Kota dan Provinsi, jujur tidak ada," kata dia, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....