Belajar di Afrika, Ikhsan Temukan Realita Baru

  • 30 Mar 2026 05:14 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Seorang pelajar asal Indonesia, Ahmad Ikhsan Laksono, membagikan pengalamannya menempuh pendidikan di Afrika Selatan. Pria yang akrab disapa Ikhsan itu, kini menetap di Pretoria dan telah menjalani kehidupan sebagai pelajar selama hampir lima tahun.

Dalam kesehariannya, Ikhsan menempuh pendidikan di Africa Islamic College. Ia memilih Afrika Selatan sebagai tujuan studi karena ingin mempelajari ilmu keislaman dengan pendekatan bahasa Inggris, sekaligus merasakan pengalaman belajar di lingkungan internasional yang berbeda.

“Alasan saya ke sini karena unik. Saya ingin belajar Islam menggunakan bahasa Inggris, dan di sini itu bisa saya dapatkan,” ujar Ikhsan.

Ia mengungkapkan pandangannya tentang Afrika Selatan berubah setelah menetap di sana. Selama ini, banyak orang menganggap negara tersebut identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Namun, menurutnya, realitas di lapangan justru berbeda jauh dari anggapan tersebut.

“Kalau orang dengar Afrika Selatan, biasanya langsung berpikir gurun atau kemiskinan. Tapi setelah sampai di sini, semuanya berbeda 180 derajat. Udaranya bagus dan lingkungannya juga nyaman,” ucapnya.

Ikhsan juga menyoroti keindahan lanskap alam Afrika Selatan yang didominasi sabana luas serta bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa. Hal ini menjadi pengalaman visual yang menarik sekaligus memperkaya sudut pandangnya terhadap dunia luar.

Namun, di balik keindahan tersebut, ia tidak menampik adanya tantangan, khususnya dari sisi keamanan. Tingkat kriminalitas yang cukup tinggi membuatnya dan pelajar lain harus lebih berhati-hati dalam beraktivitas sehari-hari.

“Karena faktor keamanan, kami lebih sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi yang lebih aman. Kalau di sini ada juga angkot yang disebut quantum, tapi tetap harus waspada,” ujar Ikhsan.

Ia menambahkan, di beberapa wilayah seperti Johannesburg, kewaspadaan menjadi hal penting. “Teman saya pernah bilang, jangan terlihat bingung di jalan, karena itu bisa menarik perhatian orang yang berniat buruk,” katanya.

Meski demikian, kehidupan sebagai muslim di Afrika Selatan tetap terasa nyaman. Ikhsan tinggal di kawasan komunitas muslim di Laudium, yang memudahkan akses terhadap kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan halal.

“Makanan halal di sini cukup mudah ditemukan. Walaupun muslim minoritas, perannya cukup besar,” jelasnya. Ia juga menyebut salah satu makanan khas setempat, biltong, sebagai camilan daging kering yang populer di masyarakat.

Melalui pengalamannya, Ikhsan melihat Afrika Selatan sebagai negara dengan dua sisi yang berjalan berdampingan: keindahan alam yang memukau dan tantangan keamanan yang nyata. Hal ini menjadi pelajaran berharga dalam membentuk kemandirian serta kewaspadaan selama menjalani kehidupan di perantauan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....