Mahasiswi Psikologi UGM Cerita Pengalaman Merantau

  • 08 Jan 2026 13:53 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Menempuh pendidikan tinggi di luar daerah menjadi pengalaman berharga bagi banyak mahasiswa, termasuk Yosefin, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Dalam perbincangan bersama Program Tonight Corner Pro 2 RRI Samarinda, ia berbagi kisah tentang pilihan jurusan, kehidupan akademik, hingga pengalamannya sebagai anak rantau.

Yosefin mengungkapkan, ketertarikannya pada dunia psikologi sudah tumbuh sejak lama. Faktor keluarga turut memengaruhi pilihannya, mengingat sang ayah juga merupakan lulusan Psikologi UGM. Selain itu, ia menilai psikologi memiliki prospek kerja yang luas dan relevan dengan minatnya yang gemar berinteraksi dengan orang lain.

“Dari dulu memang ingin psikologi. Kebetulan papa juga lulusan psikologi UGM, jadi saya sering dengar cerita soal dunia psikologi sejak kecil,” ujar Yosefin, seperti dikutip dari laman youtube RRI Samarinda, Kamis (8/1/2026).

Saat ini, Yosefin telah memasuki semester tiga dan mengaku cukup puas dengan materi perkuliahan yang dijalaninya. Ia menilai psikologi sebagai bidang studi yang menarik karena mempelajari perilaku dan kondisi manusia secara menyeluruh.

Di Psikologi UGM, ia mulai mengenal dua peminatan utama, yakni psikologi klinis dan psikologi industri dan organisasi (PIO). Psikologi klinis berfokus pada kesehatan mental dan penanganan gangguan psikologis, sementara PIO lebih mengarah pada pengelolaan sumber daya manusia di dunia kerja. “Awalnya saya kira bakal ke klinis, tapi sejauh ini justru lebih tertarik ke PIO. Tapi tetap masih dipikirkan lagi,” katanya.

Meski dikenal sebagai jurusan sosial, Yosefin mengungkapkan psikologi juga memiliki tantangan tersendiri, terutama pada mata kuliah statistik dan biopsikologi. Latar belakangnya sebagai lulusan IPS membuat ia harus beradaptasi lebih keras, terutama saat mempelajari materi yang berkaitan dengan angka dan sistem kerja otak.

“Yang paling menantang itu statistik dan biopsikologi. Karena SMA IPS, jadi perlu usaha ekstra,” ungkapnya.

Selain akademik, ia juga berbagi pengalaman hidup jauh dari orang tua. Meski tinggal bersama sang tante di Yogyakarta, Yosefin mengaku sempat merasakan rindu rumah, terutama pada awal masa perantauan. Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa dan menikmati prosesnya.

Menurut Yosefin, Yogyakarta dipilih karena atmosfer kota pelajar yang mendukung proses belajar dan perkembangan diri mahasiswa. Ia berharap pengalaman merantau ini dapat membentuk kemandirian sekaligus memperkaya wawasan hidupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....