Generasi Muda Samarinda Semakin Melek Finansial Digital

  • 08 Jan 2026 08:14 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Selain mendorong penggunaan transaksi nontunai, Generasi Baru Indonesia (GenBI) Universitas Mulawarman juga menekankan pentingnya kesiapan finansial generasi muda, termasuk dalam menyiapkan dana darurat. Kepala Divisi Pendidikan GenBI UNMUL, Desnita Syahriani, mengaku telah mengintegrasikan dana darurat ke dalam tabungan digital.

Menurutnya, kebiasaan menabung menjadi langkah awal yang penting sebelum melangkah ke tahap investasi. “Dana darurat saya sudah tersambung di tabungan digital. Jadi kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, bisa langsung digunakan,” ujar Desnita saat dialog dalam program Spada Pro2 Samarinda, seperti dikutip dari laman youtube RRI Samarinda, Kamis (8/1/2026).

Desnita menilai, literasi keuangan tidak hanya diterapkan pada diri sendiri, tetapi juga perlu dibagikan kepada lingkungan sekitar. Ia mengaku kerap berbagi pengalaman dengan teman dan keluarga mengenai pentingnya menabung dan memanfaatkan dompet digital. “Sekadar saling mengingatkan saja, sudah mulai nabung atau belum,” katanya.

Tak hanya itu, edukasi juga menyentuh aspek perlindungan konsumen melalui kampanye Generasi Peka. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan data pribadi, khususnya dalam transaksi digital. “QRIS dan transaksi digital erat kaitannya dengan data pribadi. Masyarakat harus lebih peka terhadap potensi penipuan dan peretasan,” ujarnya.

Menurut Desnita, tingkat literasi keuangan di kalangan generasi Z saat ini sudah cukup baik, terutama dalam penggunaan teknologi pembayaran digital. Namun, edukasi masih perlu diperluas ke kelompok usia yang lebih dewasa. “Kalau generasi muda sudah cukup melek digital, tantangannya justru di kalangan yang lebih senior,” katanya.

Dalam menjalankan program edukasi, Divisi Pendidikan GenBI lebih banyak menyasar anak-anak usia sekolah. Desnita menilai edukasi sejak dini menjadi kunci membentuk kebiasaan baik dalam mengelola uang. “Anak-anak perlu dikenalkan sejak awal bahwa rupiah adalah mata uang kita dan harus dijaga,” ujarnya.

Ia mengakui, kebiasaan merusak uang kerap terjadi karena minimnya pengetahuan sejak kecil. Dengan edukasi berkelanjutan di sekolah-sekolah, GenBI berharap generasi penerus memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cara merawat uang rupiah.

Desnita berpesan agar generasi muda bijak memanfaatkan kemudahan transaksi digital. “Kita sudah hidup di era digital. Gunakan transaksi nontunai untuk memudahkan, bukan untuk membuat kita semakin boros. Tetap sisihkan tabungan dan siapkan dana darurat,” katanya.

Ia berharap budaya transaksi nontunai dapat diterapkan oleh berbagai generasi, sekaligus menjaga kualitas uang rupiah agar tetap layak edar. “Uang rupiah harus dijaga dan dihargai, karena itu simbol kedaulatan kita,” ujarnya.

Dengan edukasi literasi keuangan yang berkelanjutan, GenBI UNMUL optimistis masyarakat semakin cerdas dalam bertransaksi, aman dalam memanfaatkan teknologi digital, serta bijak dalam mengelola keuangan di era modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....