Hilangkan Stigma, Komunitas Support Kanker Edukasi Masyarakat

  • 08 Jan 2026 07:49 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Rumah Singgah Kanker Kota Samarinda telah menjadi tempat berlindung dan penguat bagi ratusan pasien kanker dari berbagai daerah. Selama delapan tahun berjalan, rumah singgah yang dikelola Komunitas Support Kanker ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal gratis, tetapi juga pendampingan, edukasi, dan dukungan emosional bagi para pejuang kanker.

Pendiri Komunitas Support Kanker, Astripink, menyebutkan hingga saat ini jumlah pasien yang pernah mendapatkan layanan telah melampaui 500 orang. “Data terbaru yang kami miliki sudah mencapai 567 pasien yang pernah datang dan kami dampingi,” ujar Astri dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Samarinda, seperti dikutip dari laman youtube RRI Samarinda, Kamis (8/1/2026).

Astri menjelaskan, seluruh layanan di rumah singgah diberikan secara gratis tanpa pungutan biaya apa pun. Rumah singgah tidak hanya difungsikan sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga sebagai pusat edukasi bagi pasien dan keluarga. “Kami ingin para penghuni memahami apa yang mereka jalani, mulai dari pengobatan hingga informasi yang benar agar tidak tersesat oleh kabar yang keliru,” kata Astri.

Selain tempat tinggal, rumah singgah juga menyediakan fasilitas pendukung seperti penggunaan kursi roda gratis, edukasi pola makan sehat, penyediaan buah-buahan setiap hari, serta program rutin untuk menjaga semangat dan kondisi mental pasien. Lokasi rumah singgah yang sangat dekat dengan rumah sakit juga menjadi nilai penting bagi pasien yang harus menjalani pengobatan intensif.

Menanggapi pertanyaan pendengar terkait kanker, Astri menegaskan kanker merupakan penyakit ganas, namun yang terpenting adalah deteksi dini. “Yang perlu terus diedukasi adalah pentingnya deteksi dini, seperti perabaan untuk kanker payudara dan tiroid, serta pemeriksaan pap smear dan IVA test untuk kanker serviks,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, Astri mengakui tantangan terbesar dalam mendirikan rumah singgah bukan hanya soal pendanaan, melainkan stigma masyarakat. Ia menceritakan beberapa kali mengalami penolakan saat mencari rumah kontrakan karena kekhawatiran kanker menular. “Masih ada masyarakat yang takut kanker menular, padahal kanker tidak menular seperti COVID-19,” kata Astri.

Sementara itu, penyintas kanker payudara sekaligus penghuni Rumah Singgah Kanker Kota Samarinda, Yuli Kusrini, mengungkapkan besarnya peran rumah singgah dalam proses penyembuhannya. “Perannya sangat penting, terutama karena kami tidak perlu memikirkan biaya sewa dan kebutuhan pokok sudah disiapkan,” ucap Yuli.

Yuli juga menuturkan kedekatan jarak rumah singgah dengan rumah sakit sangat membantu pasien. “Jaraknya hanya sekitar 99 langkah, kami bisa berjalan kaki tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi,” ujarnya. Selain itu, kebersamaan dengan sesama pejuang kanker membuatnya merasa lebih kuat dan bersyukur.

Sebagai penyintas, Yuli berpesan kepada para pejuang kanker agar tetap fokus pada pengobatan medis. “Kalau sudah ditangani dokter, sebaiknya fokus menjalani pengobatan sampai selesai. Insyaallah hasilnya akan baik,” katanya.

Astri pun mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penderita kanker. Ia menekankan pentingnya dukungan emosional. “Yang dibutuhkan pasien adalah didengar dan dipeluk, bukan dibanjiri larangan dan nasihat yang justru menekan,” ujarnya.

Dengan kepedulian, edukasi yang tepat, serta dukungan komunitas, Rumah Singgah Kanker Samarinda terus menjadi rumah harapan bagi para pejuang kanker. Keberadaannya menjadi bukti bahwa solidaritas sosial mampu menghadirkan kekuatan di tengah perjuangan melawan penyakit kanker.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....