WCDI Borneo Ajak Masyarakat Bergerak dari Hal Sederhana

  • 07 Jan 2026 10:48 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Kontribusi terhadap polusi kerap dilakukan tanpa disadari, salah satunya melalui kebiasaan membuang sampah tanpa memilah antara sampah organik dan anorganik. Padahal, pencampuran kedua jenis sampah tersebut membuat proses pengolahan dan daur ulang menjadi hampir mustahil dilakukan secara optimal.

Hal itu disampaikan anggota World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Borneo, Fatur Rahman, dalam dialog Spada Pro 2 Samarinda, Jumat (2/1/2026). Ia menegaskan kesadaran lingkungan tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. “Buang sampah pada tempatnya saja sekarang tidak cukup, kalau tidak dipilah justru menyulitkan pengelolaannya,” ujar Fatur.

Menurut Fatur, realitas polusi kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Paparan polusi kerap tidak disadari, salah satunya terlihat dari kebiasaan menggunakan masker saat berkendara. “Bukan karena pandemi, tapi karena udara kita memang sudah tidak nyaman, banyak debu dan bau tidak sedap,” katanya.

Ia menambahkan, penurunan kualitas udara dan peningkatan suhu lingkungan tidak terlepas dari deforestasi yang masih terjadi di berbagai wilayah. Kondisi tersebut memicu munculnya berbagai bencana. “Kami di bidang lingkungan melihatnya sebagai cara bumi memperbaiki dirinya sendiri,” ucap Fatur dengan nada serius.

Tidak hanya polusi udara dan air, Fatur juga menyoroti fenomena polusi informasi yang kian marak di media sosial. Derasnya arus berita hoaks dan kabar duka terkait lingkungan, satwa, hingga isu politik dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat. “Kita jadi muak karena terus disuguhi informasi negatif, itu juga bentuk polusi,” ujar Fatur.

Ia mengungkapkan, persoalan lain muncul ketika masyarakat sudah mulai memilah sampah dari rumah, tetapi tidak didukung oleh sistem pengelolaan yang jelas. Minimnya informasi mengenai bank sampah dan keterbatasan pihak pengelola menjadi tantangan tersendiri dalam pengurangan timbunan sampah.

“Kita butuh kolaborasi banyak pihak, tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua institusi,” kata Fatur menegaskan. Menurutnya, sinergi antara masyarakat, pemerintah, komunitas, dan sektor swasta sangat diperlukan agar pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Fatur menyebut isu persampahan sebagai bentuk polusi yang paling dekat dengan kehidupan anak muda. Sampah kecil seperti puntung rokok atau plastik sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar jika dilakukan secara masif. “Kalau satu orang buang satu sampah per hari, bayangkan kalau itu dilakukan oleh satu kota,” ucap Fatur.

Menutup perbincangan, Fatur menekankan solusi atas persoalan lingkungan membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Ia mengibaratkan upaya pelestarian lingkungan sebagai investasi jangka panjang. “Hasilnya mungkin tidak kita rasakan sekarang, bisa jadi anak cucu kita nanti,” ujar Fatur.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan sesaat, melainkan tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....