Misman, Aktivis Lingkungan Pelopor Pelestarian Sungai Karang Mumus

  • 31 Des 2025 09:03 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Di tepian Sungai Karang Mumus, seorang pria bernama Misman menapaki jalan panjang pengabdian yang sunyi namun penuh makna. Aktivis lingkungan sekaligus jurnalis ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat sungai yang menjadi urat nadi air bersih Kota Samarinda.

Ketekunan Misman selama bertahun-tahun berbuah pengakuan nasional ketika ia menerima Anugerah Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia pada 2023.

Perjalanan Misman dimulai dari langkah kecil. Ia membersihkan sungai seorang diri, memunguti sampah yang hanyut dan menumpuk di aliran Sungai Karang Mumus. Aktivitas sederhana ini kemudian berkembang menjadi gerakan sosial besar yang melibatkan ribuan warga Samarinda.

Kesadaran masyarakat tumbuh seiring konsistensi Misman. Pada 2015, ia mendirikan GMSS-SKM (Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus), sebuah wadah kolektif untuk merawat sungai sekaligus membangun kesadaran masyarakat akan ekologi sungai.

GMSS-SKM kini memiliki pangkalan di Jalan Abdul Muthalib, Samarinda. "Dari sini berbagai aktivitas pembersihan sungai, edukasi lingkungan, hingga pelestarian ekosistem riparian dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan," ucap Misman.

Gerakan ini berlandaskan prinsip tidak menggantungkan diri pada pihak manapun, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat. Meski begitu, kerja sama tetap dijalin dengan siapa saja yang sepaham mengenai lingkungan. "Kami tetap bekerja semampu kami meski tidak ada yang membantu. Jika ada yang mendukung, tentu hasil kerja bertambah," katanya.

Partisipasi masyarakat sangat positif. Selain individu, berbagai komunitas, organisasi, dan donatur turut berkontribusi dengan menyumbangkan peralatan untuk membersihkan sungai.

Menurut Misman, tujuan GMSS-SKM tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat. Ia ingin menanamkan kesadaran bahwa sungai adalah sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan sampah.

Seiring waktu, gerakan ini berkembang dengan program yang lebih luas, termasuk menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air Sungai Karang Mumus melalui penanaman pohon, perawatan ekosistem riparian, dan edukasi berkelanjutan.

Di kawasan riparian Sungai Karang Mumus Blok 5, Misman mengenang pohon-pohon yang ia tanam sepuluh tahun lalu. “Yang tadinya tidak ada satu pohon, sekarang tumbuh ribuan pohon endemik, termasuk pohon Bengalun/Bengalon. Pohon-pohon ini menjadi front depan menyelamatkan sungai dari kerusakan ekologis dan harus dipertahankan,” ujarnya.

Misman juga menekankan pentingnya penghargaan bagi masyarakat yang merawat hutan dan ruang hijau, meski hanya sepetak kecil. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan piagam, tetapi juga dukungan biaya operasional untuk perawatan kawasan.

Baginya, menjaga sungai dan hutan bukan sekadar soal lingkungan, tetapi masa depan generasi. “Kalau ekosistem sungai tidak dijaga, habislah. Mari kita rawat pohon yang masih tersisa di bumi Kalimantan ini,” kata Misman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....