Romantika Salam Radio Lewat Atensi di Era Kejayaannya

  • 09 Sep 2025 11:21 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda – Masa sebelum era milenial bisa disebut sebagai masa kejayaan sekaligus keemasan bagi dunia radio. Pada saat itu, radio menjadi satu-satunya media informasi dan hiburan populer yang begitu dekat dengan masyarakat.

Di era serba digital sekarang, sebagian orang mungkin sudah lupa bagaimana rasanya menanti giliran nama disebut dan atensi dibacakan oleh penyiar. Hanya demi mendengar sepenggal salam sederhana yang dikirim lewat gelombang radio, pendengar rela menunggu dengan penuh antusias.

Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri ketika kartu atensi dibacakan penyiar, apalagi jika nama pengirim disebut secara langsung. Di sisi lain, kartu atensi juga menjadi sarana interaksi antara stasiun radio dengan para penggemarnya. Bahkan, pendengar harus menebus kartu atensi dengan sejumlah rupiah untuk dapat menggunakannya.

Mantan penyiar Radio Pro 2 RRI Samarinda, Ria Ardha, membenarkan bahwa kartu atensi merupakan media utama berinteraksi dengan pendengar sebelum telepon dan WhatsApp digunakan secara luas di masyarakat.

“Ada kalanya penggemar datang langsung ke studio untuk menyerahkan kartu atensi. Mereka rela antre agar cepat dibacakan dan memastikan rekues lagunya diputar dalam program acara,” kata Ria.

Menurutnya, format kartu atensi pada masa itu hampir sama. Isinya antara lain nama program, lagu yang diminta, siapa pengirim, dan kepada siapa salam ditujukan. Biasanya, kartu-kartu tersebut menumpuk dan harus diseleksi serta disortir oleh penyiar sebelum dibacakan sesuai program.

“Misalnya ada tiga kartu atensi yang minta lagu Atiek CB. Kami bacakan dulu satu per satu sambil menyiapkan kaset, karena waktu itu belum ada MP3, jadi lagunya harus diputar manual,” ujarnya.

Lebih jauh, Ria menuturkan bahwa kartu atensi kerap berisi curahan hati pengirim, mulai dari pernyataan cinta hingga pesan dengan nama samaran unik. Namun, penyiar tetap profesional dan selektif memilih mana yang layak dibacakan.

Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, kartu atensi mulai ditinggalkan seiring populernya penggunaan telepon. Permintaan lagu dan salam lewat telepon lebih diminati karena suara pendengar bisa langsung terdengar saat siaran. “Kalau via telepon, suara pendengar dapat disiarkan langsung, jadi yang dikirimi salam bisa mendengar sendiri,” ucap Ria.

Ia menambahkan, penyiar radio menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Suara ramah, candaan ringan, dan cara membaca salam membuat pendengar merasa ditemani. “Ada keintiman tersendiri ketika penyiar menyebut nama pendengar, seolah sedang berbicara langsung,” katanya.

Kini budaya kirim salam lewat kartu atensi sudah tidak ada lagi. Radio masih bertahan, tetapi pendengar bisa menggunakan telepon, WhatsApp, YouTube, dan platform digital lain untuk berpartisipasi dalam program siaran, baik hiburan maupun berita. Komunikasi pun menjadi lebih instan tanpa perlu menunggu giliran.

Namun, justru di situlah nilai kenangan itu tersimpan. Pada masa lalu, kesabaran, penantian, dan kegembiraan datang hanya karena nama disebut di udara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....