Damkar, Kini Lebih dari Sekadar Pemadam Api
- 04 Sep 2025 07:23 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Dulu, profesi pemadam kebakaran kerap dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggap pekerjaan ini hanya sebatas makan, tidur, lalu bertugas jika ada api. Namun seiring waktu, pandangan itu berubah. Kini, Damkar hadir bukan hanya sebagai garda terdepan dalam penanganan kebakaran, tetapi juga sebagai solusi di balik berbagai persoalan masyarakat.
“Iya, kalau dulu orang bilang pemadam itu kerjaan santai. Tapi sekarang, sudah berbeda. Ada banyak tantangan, tapi justru itu yang membuatnya seru. Apalagi saat menuju lokasi, ada adrenalin dan kebanggaan tersendiri,” ujar Hery Suhendra, SE, Pelaksana Umum Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, yang sudah 12 tahun mengabdi sejak 2013 saat menjadi narasumber dalam Program SPADA Pro 2 RRI Samarinda Selasa, 02/09/2025.
Secara tupoksi, Damkar memang memiliki 14 item tugas. Tak hanya soal pencegahan dan penanganan kebakaran, tapi juga penyelamatan, evakuasi, hingga penanganan keadaan darurat non-kebakaran. Dalam praktiknya, tupoksi ini kerap melebar ke hal-hal yang tak terduga.
“Sebenarnya masuk dalam kategori ya. Karena ada 14 item sebenarnya yang kita laksanakan. Cuma perintilannya itu item-itemnya. Jadi masuk itu ya tambahan job kami juga sebenarnya begitu.” katanya.
Petugas Damkar sering diminta menolong perkara unik dan di luar logika. Dari melepas cincin di bagian tubuh sensitif, mengambil kartu ATM yang jatuh di selokan, mengevakuasi kaki anak kecil dari kloset, hingga hal-hal viral seperti diminta menagih utang, menjadi juru bicara karena kehilangan HP, bahkan mengantarkan istri pulang ke rumah orang tua setelah bertengkar dengan suami.
Fenomena ini bahkan memunculkan istilah populer di media sosial: “apa-apa ujungnya Damkar” atau “panggil Damkar saja”. Meski permintaan masyarakat kadang terdengar aneh, Hery menegaskan bahwa prinsip utama tetaplah melayani.
“Kalau dibilang kesal, ya pasti ada. Karena ada permintaan yang kadang enggak masuk akal. Tapi jiwa menolong itu yang lebih diutamakan. Artinya masyarakat percaya pada Damkar, bahkan untuk hal-hal yang menurut mereka sulit diselesaikan sendiri,” kata Hery.
Kepercayaan ini, lanjutnya, menjadi bukti bahwa profesi Damkar kini jauh lebih diapresiasi. Tidak hanya diakui dalam urusan kebakaran, tetapi juga diterima sebagai solusi bagi masalah-masalah nonkebakaran yang sering kali tidak terbayangkan.
“Alhamdulillah, untuk kami sendiri sangat diapresiasi sama masyarakat. Kami juga tidak menyangka laporan nonkebakaran bisa sebanyak ini. Kalau kebakaran mungkin hal biasa, tapi yang nonkebakaran justru sering di luar akal sehat, dan ternyata bisa kami tangani,” ujar Hery.
Dari sinilah kemudian lahir slogan yang melekat pada tubuh Disdamkarmat Kota Samarinda “Apapun masalahnya, Damkar solusinya.” Sebuah ungkapan yang mencerminkan pengabdian sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap profesi ini.
“Makanya ada slogan dari pimpinan kami, ‘Apapun masalahnya, Damkar solusinya.’ Dan itu kami jalankan dengan ikhlas, karena semua dikerjakan pakai hati untuk masyarakat,” tambahnya.
Meski keseharian para petugas Damkar dipenuhi dengan beragam panggilan darurat, baik yang masuk akal maupun yang tidak, mereka tetap manusia biasa yang juga memiliki masalah pribadi di luar pekerjaan. Namun, hal itu tak pernah mengurangi semangat pengabdian.
Damkar Samarinda pun membuktikan bahwa di balik seragam merah dan sirine mobil pemadam, ada ketulusan yang selalu hadir untuk masyarakat. Mereka menjadi simbol pengabdian yang bekerja dengan hati, ikhlas melayani tanpa mengenal batas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....