Semarak Lomba Tradisional di Tengah Arus Digitalisasi
- 18 Agt 2025 19:44 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Setiap bulan Agustus, nuansa kemerdekaan begitu terasa di seluruh penjuru Indonesia. Berbagai perlombaan tradisional seperti balap karung, panjat pinang, dan tarik tambang menjadi pemandangan umum yang tak lekang oleh waktu dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi ini menjadi identitas budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya, di tengah derasnya arus teknologi informasi dan dominasi dunia digital, animo masyarakat terutama anak-anak terhadap perlombaan tradisional masih tergolong tinggi. Hal ini tercermin dalam peringatan HUT RI ke-80 yang diselenggarakan di RT 13, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda.
“Antusias banget ya. Yang namanya anak-anak kan jiwa kompetitifnya kenceng banget, jadinya pada semangat,” ujar Adjie, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda yang terlibat sebagai panitia lomba 17-an, saat menjadi narasumber dalam program SPADA Pro 2 RRI Samarinda, Senin (18/08/2025).
Menurut Adjie, perlombaan tradisional masih memiliki relevansi di era digital. Ia menilai permainan seperti ini membentuk karakter sosial anak-anak dan menjadi penyeimbang antara kehidupan nyata dan dunia digital.
“Permainan ini membentuk jiwa sosial, jadi kita nggak berpatok ke dunia digital aja. Diseimbangkan lah antara kehidupan nyata dan digital,” katanya menambahkan.
Pendapat senada juga disampaikan oleh Adi, mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) yang telah tiga tahun aktif dalam kepanitiaan lomba HUT RI di lingkungannya. Ia menegaskan bahwa lomba tradisional tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai luhur seperti kebersamaan dan gotong royong.
“Masih sangat relevan ya, terutama jika kita melihat dari nilai yang didapat ketika berpartisipasi dalam perlombaan tradisional 17-an. Seperti nilai-nilai kebersamaan, gotong royongnya, jadi istilahnya antarwarga itu terjalin silaturahmi,” ucap Adi.
Meskipun demikian, Adi tidak menampik kehadiran teknologi. Ia bahkan melihat potensi besar dalam menggabungkan elemen digital dengan perlombaan tradisional untuk memperluas daya tariknya, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, teknologi dapat menjadi alat untuk melestarikan dan mempopulerkan budaya tradisional ke khalayak yang lebih luas.
“Kehadiran teknologi, kalau dimanfaatkan dengan tepat, bisa jadi pendukung agar warisan tradisi ini tetap lestari di era modern,” katanya.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai budaya yang terus dijunjung tinggi, perlombaan tradisional di bulan kemerdekaan membuktikan bahwa identitas lokal dapat hidup berdampingan dengan kemajuan zaman. Justru, kolaborasi antara budaya dan teknologi menjadi kunci untuk menjaga warisan bangsa tetap relevan dan membumi di hati generasi masa kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....