Siswi SMAN 3 Samarinda Raih Emas di Jepang

  • 12 Agt 2025 07:17 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Bagi sebagian besar pelajar, mengikuti perlombaan tingkat internasional adalah kesempatan emas yang sangat berharga. Bisa mewakili sekolah, bersaing dengan peserta dari berbagai negara, hingga menunjukkan karya di hadapan juri dunia menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi jika perjuangan itu berujung pada raihan medali emas prestasi yang tidak hanya mengangkat nama pribadi, tetapi juga sekolah, daerah, bahkan bangsa.

Inilah yang dirasakan Zhafira Trisiana Putri, siswi berprestasi dari SMAN 3 Samarinda. Ia bersama tim sekolahnya berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih Gold Medal dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo (JDIE) 2025 yang berlangsung pada 5–6 Juli 2025 di Bellesalle Haneda Airport, Tokyo, Jepang.

Kompetisi bergengsi yang diikuti oleh ratusan tim dari 26 negara ini menjadi ajang unjuk kemampuan pelajar dalam bidang desain, ide, dan inovasi. Tim Zhafira mencuri perhatian juri internasional lewat karya inovatif mereka yaitu produk herbal berbasis kearifan lokal dari daun bangun-bangun, tanaman yang dikenal luas di Sumatera Barat karena khasiatnya untuk ibu menyusui.

“Jadi, awalnya pembina kami, Kak Hotrizal, pernah melakukan penelitian tentang kandungan anti-kanker pada daun bangun-bangun. Dari situ, kami tertarik mengembangkan lebih jauh menjadi susu herbal, salep anti-kanker, dan aromaterapi,” kata Zhafira dalam program Sore Ceria Pro2 RRI Samarinda, Senin (11/08/2025).

Perjalanan menuju Tokyo tidaklah mudah. Setelah proposal karya mereka lolos seleksi, Zhafira dan tim menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk proses eksperimen di laboratorium Universitas Mulawarman. Beberapa kali uji coba produk mengalami kegagalan, namun mereka tidak menyerah.

“Salepnya sempat gagal tiga kali. Di lab juga sempat tidak berhasil. Tapi karena kami bawa prototipe, kami tetap percaya diri untuk mempresentasikan karya kami,” ujarnya.

Salah satu tantangan besar yang mereka hadapi adalah keterbatasan bahan baku. Daun bangun-bangun cukup sulit ditemukan di Samarinda, sehingga tim harus mendatangkannya langsung dari Medan melalui pembina mereka.

“Iya, kami sempat kekurangan bahan. Untungnya pembina kami kirim dari Medan. Kami ingin mengenalkan manfaat daun ini ke lebih banyak orang karena potensinya sangat besar,” kata Zhafira menambahkan.

Presentasi di hadapan juri internasional dilakukan dalam bahasa Inggris. Meski sempat gugup, kerja keras dan persiapan matang mereka membuahkan hasil manis. Dari sekitar 20 tim asal Indonesia dan peserta dari negara lain, tim SMAN 3 Samarinda sukses membawa pulang medali emas.

Bagi Zhafira, kemenangan ini bukan sekadar prestasi, tapi juga pengalaman berharga yang memperkuat cita-citanya melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran. Meski saat ini tengah menjalani masa penjurusan di kelas XI, ia tetap aktif mengikuti berbagai ajang akademik.

Prestasi di JDIE 2025 menambah daftar panjang pencapaiannya. Sebelumnya, Zhafira pernah meraih Juara 1 Olimpiade Nasional Diamond Education Institute, Juara 1 Euphorbio 7 oleh FMIPA Universitas Mulawarman, dan Juara 1 Smaridasa Science Competition oleh SMAN 10 Samarinda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....