Angkat Potensi Kampung Ketupat Lewat Pemberdayaan Masyarakat
- 22 Jul 2025 08:44 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Semangat pemberdayaan masyarakat terus tumbuh dari kalangan muda. Salah satunya datang dari komunitas Waris Yudistira, bagian dari program Beasiswa Bakti BCA, yang aktif menggerakkan potensi warga di Kampung Ketupat, Samarinda. Mengusung nama yang merupakan singkatan dari Mewujudkan Aksi Rakyat Inovatif, delapan mahasiswa yang tergabung dalam Waris Yudistira hadir membawa pendekatan segar mendorong ekonomi kreatif dengan akar budaya lokal.
Fokus utama mereka adalah pelatihan inovasi produk dan branding kepada warga. Tak hanya sebatas membuat kulit ketupat dari daun nipah, pelatihan ini mendorong warga untuk memanfaatkan bahan tersebut menjadi beragam produk bernilai ekonomi, seperti tas, keranjang, hingga aksesori lainnya.
“Nah, dari situ para warga Kampung Ketupat enggak meleluh itu tentang membikin kulit ketupat dari daun nipah aja. Tapi dari daun dari daun nipah sendiri itu bisa membuat selain kulit ketupat seperti misalnya membuat tas, keranjang dan lain-lain sebagainya.” ungkap Yasmin, anggota Waris Yudistira, saat hadir dalam obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Samarinda baru-baru ini.
Program ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat luas. Waris Yudistira sempat membuka open volunteer dan berhasil menggaet lebih dari 40 relawan, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Mereka ikut aktif dalam membantu pelatihan hingga pameran produk warga.
“untuk volunteer kami sendiri kemarin itu lebih dari 40 orang . Bahkan kita sih enggak expect sih kemarin kok bisa seramai ini, tapi ya senanglah akhirnya banyak yang interest gitu buat membantu kita di pemberdayaan di Kampung Ketupat.” ujar Andre, anggota lainnya.
Sebelum menjatuhkan pilihan ke Kampung Ketupat, tim Waris Yudistira lebih dulu melakukan riset ke beberapa kampung budaya di Samarinda, seperti Putak dan Pampang. Namun, Kampung Ketupat dinilai memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal.
“Kebetulan di sana itu kita concern sih, ngelihat gimana kondisi warga-warga di sana. Dalam artian mereka tuh sebetulnya banyak banget potensi yang bisa didongkrak, dinaikkan gitu. Tapi sayangnya di sana itu banyak warga yang masih berkutat di zona nyaman ya, belum memaksimalkan potensi yang mereka punya begitu.” Tambah Andre
Nama "Kampung Ketupat" sendiri kerap menimbulkan rasa penasaran. Banyak yang mengira kampung ini dipenuhi kuliner khas ketupat atau dekorasi bertema ketupat. Padahal, yang menjadi ciri khas kampung ini adalah keterampilan menganyam daun nipah, warisan budaya yang sudah turun-temurun.
“Kalau kita mendengar kampung ketupat sendiri kan suatu kampung yang berbasis budaya yang di mana warga-warga di Kampung Ketupat itu memiliki keterampilan menganyam. Nah, makanya dari itu dinamakan dengan nama Kampung Ketupat. Sesuai dengan tema kita juga yang memberdayakan ekonomi berbasis budaya.,” tutupnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....