Tantangan Komunikasi Pemberdayaan Kampung Ketupat

  • 22 Jul 2025 08:51 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Melakukan program pemberdayaan masyarakat bukan perkara mudah, apalagi ketika perbedaan cara berpikir, usia, dan gaya komunikasi menjadi tantangan utama. Hal inilah yang dirasakan oleh Andre, salah satu anggota komunitas Waris Yudistira, selama mendampingi warga di Kampung Ketupat, Samarinda.

Waris Yudistira, bagian dari program Beasiswa Bakti BCA, telah menjalankan pelatihan inovasi dan branding produk di Kampung Ketupat, Samarinda sejak April 2025 lalu. Dalam prosesnya, mereka mendampingi warga yang selama ini dikenal dengan keterampilan menganyam daun nipah untuk mengembangkan produk-produk kreatif bernilai ekonomi.

Namun menurut Andre selama hampir tiga bulan mendampingi warga, tantangan terbesar bukan soal teknis pelatihan. Melainkan bagaimana timnya bisa masuk dan diterima oleh warga yang mayoritas berusia lanjut.

“Jadi sebetulnya tantangan terbesar kita itu adalah di gimana kita beradaptasi dan bersosial dengan warga-warga di sana. Mereka ramah, Mereka juga baik-baik kepada kita. Cuman pola komunikasinya, pola kerjanya kan berbeda ya dengan mahasiswa-mahasiswa. Apalagi mereka di sana itu rata-rata warganya bisa dibilang sudah berumurlah. Jadi cukup butuh banyak proses dan mengolah lagilah gimana komunikasi yang baik sama mereka, bagaimana kita ngelakuin perencanaan bareng sama mereka itu menjadi salah satu tantangan yang paling sulit sih buat kami kemarin.” ungkap Andre dalam obrolan Sore Ceria Pro 2 Samarinda baru – baru ini.

Perbedaan generasi membuat proses penyamaan visi dan perencanaan bersama warga jadi cukup menantang. Butuh waktu dan pendekatan yang penuh empati agar komunikasi bisa berjalan dua arah dan kolaborasi terasa setara. Meski demikian, proses panjang tersebut justru memperkuat hubungan antara tim Waris Yudistira dengan warga.

Salah satu anggota Waris Yudistira, Yasmin juga menyampaikan warga Kampung Ketupat sebenarnya sudah cukup sering mendapatkan pelatihan dari berbagai pihak. Namun, yang mereka harapkan bukan hanya pelatihan sesaat, melainkan pendampingan berkelanjutan yang mampu mengantar pada hasil konkret.

“yang menjadi harapan mereka tuh sebetulnya ‘ayo dong setelah pelatihan kami ini tetap dibina, tetap didampingi gitu loh. Enggak yang langsung ee selesai’. Nah, jadi kami cobalah realisasikan apa yang menjadi harapan mereka buat kita terus dampingin nih sampai nanti dapat hasilnya, dapat output-nya buat teman-teman di Kampung Ketupat sana.” Ujarnya

Untuk itu ke depan, Waris Yudistira berkomitmen untuk terus mendampingi warga hingga hasil nyata dari pelatihan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Kampung Ketupat. Upaya mereka bukan hanya tentang membangun inovasi produk, tetapi juga membangun harapan dan keberlanjutan ekonomi berbasis budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....