Permainan Tradisional Hidupkan Suasana Kala Fest 2025

  • 14 Jun 2025 04:43 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Suasana meriah dan penuh nostalgia menyelimuti area Kala Fest Citra Niaga 2025 yang digelar pada 13–15 Juni 2025. Salah satu yang mencuri perhatian pengunjung adalah kehadiran Komunitas Permainan Tradisional yang memamerkan berbagai permainan khas nusantara seperti congklak, sumpit, gasing, enggrang, balogo, lompat tali karet, bakiak, dan lain-lain.

Ketua Komunitas Permainan Tradisional, Saiful saat ditemui Jum’at, 13/06/2025 dalam event tersebut di Kompleks Tugu citra niaga menjelaskan bahwa partisipasi komunitas ini merupakan bagian dari upaya serius dalam melestarikan warisan budaya.

“Komunitas kami ini dibentuk bertujuan untuk melestarikan warisan leluhur, menjaga nilai-nilai budaya yang ada di Kota Samarinda dengan berbagai macam permainan tradisionalnya. Maka sangat penting bagi kami untuk melestarikan permainan ini,” ujarnya.

Komunitas yang telah aktif sejak tahun 2010 ini merupakan gabungan dari beberapa kelompok, seperti komunitas balogo, gasing, enggrang, dan sumpit. Mereka secara rutin mengadakan kegiatan sosialisasi dan bermain bersama di sekolah-sekolah serta berbagai acara di lingkungan masyarakat, seperti kegiatan kelurahan dan event dinas.

Permainan tradisional Enggarang. (doc. Liza)

Mengusung konsep yang selaras dengan penyelenggara event yakni Samarinda Tempo dulu, Komunitas permainan tradisional mengajak pengunjung untuk bermain permainan tradisional yang juga menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban kota.

“Konsepnya kami mengajak masyarakat bermainlah, pengunjung Citra Niaga ini untuk mengenang masa dulu. Jadi Citra ini punya sejarah yang panjang dalam peradaban Kota Samarinda, dan permainan tradisional ini juga bagian dari unsur yang tidak lepas dari peradaban tersebut,” jelasnya.

Meski dunia kini tengah bergerak cepat ke arah digitalisasi, Saiful menekankan bahwa permainan tradisional tetap relevan karena mengandung banyak aspek penting yang tidak dimiliki oleh permainan digital, terutama dalam hal interaksi sosial dan kebugaran fisik.

“Terutama dari aspek kesegaran jasmani ya, anak – anak sekarang itu kan dengan tekhnologi kita tidak bisa hindari gadgetkan bermain dirumah, kenapa kita tidak coba bermain diluar toh dari situ kita bisa mendapatkan manfaat, aktifitas fisik itu juga bisa meningkatkan kesehatan kebugaran kemudian dari situ juga kita bisa membangun interaksi nyata dengan masyarakat sekitar, daripada kita dirumah terus kenapa kita tidak mencoba keluar untuk membangun komunikasi dengan masyarakat. Karna dengan permainan tradisional ini saling berinteraksi, saling membangun, saling bekerja sama,” katanya.

Anak - anak bermain permainan tradisional congklak. (doc. Liza)

Saiful menambahkan, bukan berarti anak-anak tidak tertarik pada permainan tradisional, hanya saja mereka belum banyak mengenal permainan fisik tersebut.

“Jadi kitanya lagi bagaimana kita mengenalkan kepada mereka, semenjak kita datang kesekolah sekoloah seperti paud, sd, smp, sma. Anak anak sudah mulai memahami menggemari tinggal ketersediaan ruang publik untuk bermain. Kendalanya disitu, sekarang ini keterbatasan ruang publik untuk bermain seperti fasilitas umum”. tambahnya

Untuk itu, ia mendorong semua pihak — termasuk pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lebih banyak ruang publik yang ramah anak dan mendukung aktivitas permainan tradisional. Ia pun mengapresiasi dukungan pemerintah yang sudah mulai sering mengadakan lomba-lomba permainan tradisional.

“Untungnya sekarang sudah banyak lomba-lomba olahraga tradisional yang digalakkan baik tingkat SD, SMP, maupun SMA. Karena olahraga tradisional ini dari segi manfaat dan kebudayaan, mencakup semua,” tutupnya.

Tak hanya mengikuti berbagai festival budaya, komunitas ini juga aktif menyelenggarakan lomba-lomba permainan tradisional secara mandiri di berbagai kesempatan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk terus membangkitkan kembali semangat masyarakat, terutama generasi muda, agar kembali akrab dan mencintai permainan tradisional sebagai bagian dari jati diri dan kekayaan budaya bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....