Cerita Mahasiswa Indonesia Soal Perbedaan Cara Menyapa di Australia

  • 07 Mei 2025 03:22 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mulawarman, Angga Damara Putra, berbagi pengalamannya saat mengikuti program pertukaran pelajar Indonesian International Student Mobility Awards – Edisi 2024 (IISMA-E) ke Universitas Curtin Australia. Salah satu hal yang mencuri perhatiannya selama belajar di negeri Kanguru adalah perbedaan budaya dalam hal menyapa, khususnya kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Saat menjadi narasumber Program Tonight Corner Cerita Anak Rantau Pro 2 RRI Samarinda baru – baru ini. Angga menuturkan bahwa budaya menyapa di Australia cenderung lebih santai dan egaliter dibandingkan dengan Indonesia.

“Tentu saja ada perbedaan ya. Kalau misalnya kita (di Indonesia) manggil orang yang lebih tua itu 'Pak', yang mungkin kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris jadi 'Mister' atau 'Miss'. Nah, kalau di sana, misalnya dosen saya namanya Pak Paement, yaudah langsung dipanggil ‘Paement’ gitu,” ujarnya

Dalam konteks perbedaan budaya menyapa, negara-negara Barat seperti Australia memang cenderung menekankan nilai kesetaraan. Sapaan langsung tanpa menggunakan gelar baik kepada dosen, atasan, maupun orang yang lebih tua merupakan hal yang lumrah dan tidak dianggap tidak sopan. Gaya komunikasi seperti ini mencerminkan budaya yang menjunjung tinggi individualitas serta hubungan sosial yang lebih egaliter.

Sementara itu, di negara-negara Timur seperti Indonesia, penyebutan gelar sapaan seperti "Pak", "Bu", atau dalam versi internasionalnya “Mister” dan “Miss” merupakan bagian dari etika dan tata krama dan bagian kebiasaan umum di masyarakat. Sapaan tersebut mencerminkan struktur sosial yang menempatkan penghormatan terhadap usia dan status sebagai nilai utama dalam interaksi sehari-hari

Namun, sebagai anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan Indonesia, Angga tetap memilih menyapa dengan cara yang menurutnya menunjukkan rasa hormat.

“Kalau aku sendiri sih tetap coba bawa budaya Indo, ya. Di mana kita menunjukkan respek, hormat kepada yang lebih tua. Jadi aku panggilnya ‘Mister Paement’. Kadang dia malah bercanda balik, 'Eh Mister Angga',” tuturnya

Ia mengaku senang bisa memperkenalkan kebiasaan tersebut di lingkungan kampus yang multikultural. Bagi Angga, keberagaman budaya di kampusnya di Australia menjadi ladang pertukaran nilai dan kebiasaan yang kaya. Karena kampus Curtin di australia sendiri cukup terbuka menerima perbedaan budaya selama masih dalam batas norma.

“Itulah tujuan kita belajar di sana, saling bertukar budaya. Karena memang kampus di Australia itu luar biasa, banyak mahasiswa dari berbagai negara. Jadi seneng juga mereka ketemu budaya yang berbeda, Jadi nggak mesti di sana harus mengikuti budaya sana. Nggak apa-apa berbeda, asal memang tidak melanggar norma dan sebagainya.” tutupnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....