Setia Mengabdi Dari Pelosok Muara Ancalong
- 02 Mei 2025 12:20 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 menjadi momentum refleksi tentang makna sejati pendidikan, terutama bagi mereka yang memilih jalan pengabdian di daerah terpencil. Salah satunya adalah Dwi Rahmat Fadzar, seorang guru muda yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di salah satu sekolah dasar di pedalaman Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur.
Di tengah hiruk-pikuk tawaran kerja di kota besar, Dwi justru mengambil langkah berani untuk kembali ke kampung halamannya. Wilayah tempatnya mengabdi termasuk dalam kategori 3T—terdepan, terluar, dan tertinggal. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk membawa perubahan.
“Kalau dilihat secara geografis daerah saya itukan memang daerah 3T ya. Nah akhirnya saya mencoba untuk memberikan dan membagikan ilmu yang saya dapat semasa kuliah,” ujarnya saat mengisi obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda Jum'at, 2 Mei 2025.
Keputusannya menjadi guru lahir dari keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di desanya. Saat masih kuliah, Dwi sering pulang ke kampung saat liburan dan melihat anak-anak yang menurutnya sangat membutuhkan bimbingan, terutama dalam hal pembentukan karakter.
“Dulukan waktu saya liburan itu liat anak-anak di sana kayak butuh direformasi akhlaknya. Akhirnya dari situlah saya memutuskan mencoba jadi guru, mencoba tantangan walaupun kita sebenarnya orangnya gak sabaran gitu ya,” katanya sambil tersenyum.
Meski dihadapkan pada berbagai peluang kerja menjanjikan di kota seperti Samarinda, ia tetap memilih untuk mengabdi. “Banyak saja sebenarnya tawaran kerja di kota, di Samarindalah. Cuman balik lagi, panggilan diri sih sebenarnya,” tambahnya.
Pada peringatan Hardiknas tahun ini, kisah Dwi Rahmat Fadzar menjadi potret nyata semangat Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya pendidikan bagi semua anak bangsa, tanpa terkecuali bahkan untuk mereka yang ada di pelosok negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....