Unik dan Serunya Ramadhan di Mesir

  • 25 Mar 2025 14:38 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Mesir memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadan, yang bahkan lebih meriah dibandingkan perayaan Idul Fitri. Hal ini diungkapkan oleh Nawrah Nabilah, seorang perantau asal Muara Muntai, Kalimantan Timur, yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar Kairo saat menjadi narasumber program cerita anak rantau di Pro 2 RRI Samarinda baru - baru ini.

"Salah satu yang bikin aku terkagum-kagum sama Mesir itu ketika menyambut Ramadan. Meriahnya kayak menyambut hari raya Idul Fitri, serius! Padahal masih Ramadannya loh," ungkap Nawrah dalam wawancara.

Menurut Nawrah, di Indonesia suasana meriah lebih terasa saat menjelang Idul Fitri dengan keluarga berkumpul dan menyiapkan berbagai hidangan khas seperti opor ayam dan rendang. Sementara itu, di Mesir, justru Ramadan-lah yang paling dirayakan. "Hari rayanya udah sepi, karena mereka benar-benar memanfaatkan bulan Ramadan yang penuh berkah ini untuk beribadah," tambahnya.

Salah satu tradisi yang paling menarik di Mesir adalah Maidaturrahman, yang berarti "meja kasih sayang." Pada tradisi ini, orang-orang dermawan di Mesir menyediakan makanan gratis untuk berbuka puasa bagi siapa saja yang membutuhkan.

"Sepanjang jalan pasti ada yang membagikan takjil, bahkan mengajak kita untuk makan bersama di satu meja. Hari ini aku juga mau ikut buka puasa di Masjid Al-Azhar, di mana ada Maidaturrahman terbesar yang paling dinantikan," cerita Nawrah.

Selain itu, Nawrah juga mengungkapkan bahwa kebiasaan berbuka puasa di Mesir cukup berbeda dengan di Indonesia. Jika di Indonesia masyarakat terbiasa membeli berbagai jenis takjil di pasar Ramadan, di Mesir mereka langsung menyantap makanan berat. "Di sini takjilnya bukan jajanan, tapi langsung satu kotak besar berisi ayam paha besar, nasi briyani khas Yaman, jus, dan kurma," jelasnya.

Saat ditanya tentang makanan Mesir, Nawrah mengaku cukup netral dalam menyesuaikan diri dengan cita rasa lokal. "Ada yang suka, ada yang kurang cocok. Kalau aku sih bisa makan, bisa juga enggak. Yang jelas, kalau enggak makan ya kelaparan," ujarnya sembari tertawa.

Keunikan Ramadan di Mesir juga semakin terasa dengan adanya inisiatif mahasiswa Indonesia yang menjual takjil khas Nusantara, seperti onde-onde dan tempe goreng. "Tahun lalu Ramadan terasa hambar karena enggak ada takjil Indonesia. Sekarang, alhamdulillah, ada yang berinisiatif jualan, jadi rasa rindu kampung halaman sedikit terobati," katanya.

Sebagai penutup, Nawrah juga berbagi kesan tentang masyarakat Mesir. "Orang-orang Mesir itu unik. Bahkan pekerja pengangkut sampah pun bisa punya wajah ganteng - ganteng, alis tebal, hidung mancung, mata besar, bulu matanya lentik - lentik. Kalau dibawa ke Indonesia, udah jadi artis!" ujarnya.

Pengalaman Nawrah menunjukkan bahwa Ramadan di Mesir tidak hanya sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjadi momen kebersamaan dan berbagi dengan sesama. Tradisi ini menjadi bagian dari kenangan berharga bagi para perantau, termasuk dirinya yang jauh dari tanah air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....