Cerita Nawrah Hadapi Kendala Bahasa Gaul di Mesir
- 25 Mar 2025 13:58 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Berani melangkah jauh dari tanah kelahiran untuk menempuh pendidikan bukanlah keputusan mudah. Namun, Nawrah Nabilah, seorang perantau asal Muara Muntai, telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih dengan tekad yang kuat. Sejak tahun 2016, Nawrah telah menjalani kehidupan di Mesir, menempuh pendidikan di Maahad Buus sebuah sekolah internasional yang diperuntukkan bagi pelajar dari berbagai negara.
Alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini telah menghabiskan hampir sembilan tahun hidupnya di Mesir. Keputusan Nawrah untuk belajar di Mesir bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ini adalah rencana yang telah dipersiapkan oleh keluarganya sejak lama. Bahkan, ia adalah orang pertama dalam keluarganya yang mencoba peruntungan menuntut ilmu di negeri para nabi.
"Ini sudah direncanakan oleh orang tuaku. Aku datang ke sini bersama keluarga untuk mencoba sekolah SMP dan SMA di sini," ungkapnya saat menjadi narasumber Cerita anak rantau Pro 2 RRI Samarinda baru - baru ini.
Awalnya, keberangkatan Nawrah ke Mesir merupakan sebuah ujian bagi dirinya sendiri. Jika ia berhasil beradaptasi dan menempuh pendidikan dengan baik, maka ada kemungkinan anggota keluarga lain menyusul. Dan benar saja, Nawrah berhasil membuktikan kemampuannya. Tahun ini, ia sudah memasuki tahun kesembilannya di Mesir.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Nawrah selama di Mesir adalah perbedaan bahasa. Meski sebelumnya ia sudah mendapatkan dasar-dasar bahasa Arab dari pesantren di Indonesia, kenyataannya bahasa yang digunakan di Mesir sangat berbeda dengan yang dipelajari di sekolah.
"Di pesantren, kita diajarkan bahasa fusha atau bahasa formal yang juga digunakan dalam Al-Qur’an. Tapi di Mesir, masyarakatnya menggunakan bahasa amiyah atau bahasa percakapan sehari-hari yang jauh berbeda," jelasnya.
Perbedaan ini sempat membuat Nawrah kesulitan dalam berkomunikasi. Bahkan, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa amiyah.
"Kalau dengar mereka bicara, aku paham. Tapi saat harus membalas, itu yang sulit. Kadang aku bingung harus pakai kosakata yang mana," tuturnya sambil tertawa.
Namun, seiring berjalannya waktu, Nawrah mulai terbiasa dan semakin percaya diri dalam menggunakan bahasa amiyah.
"Sekarang sih sudah bisa menyahut-nyahut kalau ada yang mengajak ngobrol. Bahkan kalau ada yang mengejek, aku ejek balik," katanya dengan nada bangga. Ia juga menambahkan bahwa di Mesir, seseorang harus berani bersikap tegas agar tidak dianggap lemah oleh orang lain.
Selain kendala bahasa, hidup di negeri orang juga mengajarkan banyak hal kepada Nawrah. Ia belajar untuk lebih mandiri, beradaptasi dengan budaya yang berbeda, serta menghadapi berbagai tantangan dengan kepala tegak.
"Orang Mesir nih kayak bar - bar gitu loh sama sama kita-kita yang lemah lembut gitu kan jadi kita sendiri enggak boleh ngerasa direndahin gitu kan harus tegas juga kalau kita punya hak gitu makanya di dari situ aku belajar untuk berbahasa amyah lebih baik lagi gitu," ucapnya.
Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Mesir, Nawrah telah melewati berbagai fase dalam hidupnya. Dari awalnya harus berjuang memahami bahasa dan budaya, hingga akhirnya menjadi pribadi yang lebih matang dan percaya diri. Pengalamannya ini menjadi bukti bahwa keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman dapat membuka banyak kesempatan baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....