Menjaga Seni dan Kualitas, Kisah Arief Mebel Samarinda Menembus Dua Dekade

  • 21 Sep 2026 19:43 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Berawal dari ketertarikan terhadap seni dan kebiasaan menggambar sejak kecil, Syarif Hidayatullah mengembangkan minat tersebut menjadi usaha mebel dan interior bernama Arief Mebel Samarinda yang telah berdiri sejak 2003.

Syarif mengaku, ketertarikannya terhadap dunia mebel bermula ketika melihat orang tuanya pernah menjalankan usaha mebel. Dari sana, ia mulai tertarik mempelajari proses pembuatan berbagai produk mebel dan interior.

“Pertama itu karena melihat seni. Saya dari dulu senang menggambar. Orang tua juga pernah usaha mebel, jadi saya melihat dan mulai tertarik. Dari situ saya mencoba, ternyata ada peluang secara finansial dan saya pikir bisa menjadi usaha ke depannya,” ujarnya kepada RRI.

Menurut Syarif, peluang usaha mebel dan interior di Samarinda kala itu masih cukup besar. Perkembangan perumahan dan kebutuhan masyarakat terhadap perabot rumah menjadi salah satu pertimbangan untuk menekuni bidang tersebut.

“Yang membuat saya bertahan juga karena ada kepuasan. Seni itu bagaimana kita menghasilkan suatu barang sesuai permintaan orang lain. Ketika hasilnya membuat pelanggan puas, kita juga ikut merasa puas,” katanya.

Pada awal menjalankan usaha, Syarif tidak langsung memiliki tenaga kerja tetap. Ia lebih banyak mengerjakan pekerjaan berdasarkan sistem borongan, terutama untuk kebutuhan mebel dan interior kelas menengah hingga menengah atas.

Produk yang dikerjakan antara lain kitchen set, furniture, lemari pajang hingga etalase. Untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih banyak, Syarif mengajak rekan-rekan sesama tukang, baik dari Samarinda maupun dari luar daerah.

“Awalnya saya ikut orang dan mengambil pekerjaan borongan. Kalau pekerjaan tidak bisa saya tangani sendiri, saya panggil teman-teman, baik tukang dari Samarinda maupun dari luar kota,” ujarnya.

Untuk keterampilan, Syarif mengaku sebagian besar diperoleh secara otodidak. Sebelum membuka usaha sendiri, ia sempat bekerja bersama sejumlah pengrajin mebel dan belajar dari proses mengamplas hingga finishing.

“Belajarnya otodidak. Dasarnya saya ikut mebel-mebel Banjar, belajar mengamplas dan finishing. Karena ternyata menyenangkan, saya coba ke tahap berikutnya. Jadi banyak belajar dari pengalaman,” katanya.

Arief selalu menjaga kualitas produknya agar mebel lokal mampu bersaing dan dikenal luas baik dalam maupun luar negeri. (Foto : RRI/Dedi)

Dalam hal permodalan, Syarif mengatakan sistem pembayaran proyek menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kelangsungan pekerjaan. Uang muka atau DP dari pemilik proyek digunakan untuk membeli material, meski dalam praktiknya tetap diperlukan tambahan modal pribadi.

“Kalau untuk jasa, awalnya tidak terlalu membutuhkan modal besar. Biasanya ada pekerjaan borongan sekaligus material. Kita berharap ada DP dari pemilik, misalnya 30 persen, tetapi dalam perjalanan kadang kita harus menambah modal pribadi untuk menutup kebutuhan pekerjaan,” ujarnya.

Salah satu tantangan yang pernah dihadapi Arief Mebel Samarinda adalah keterbatasan modal dan sumber daya manusia. Perkembangan desain serta teknologi industri mebel yang lebih cepat di sejumlah daerah, khususnya Pulau Jawa, membuat pelaku usaha lokal harus terus mengikuti perkembangan.

Namun, perkembangan media sosial kini turut membantu pelaku UMKM mebel dan interior untuk melihat referensi desain serta tren terbaru. Menurut Syarif, hal tersebut membuat pelaku usaha lokal semakin mudah meningkatkan wawasan dan kualitas produknya.

“Dengan adanya media sosial, kita bisa upgrade. Kita bisa melihat desain custom yang terbaru, sehingga sekarang mulai bisa setara. Dari sisi material juga sudah semakin mudah,” katanya.

Ia menambahkan, persoalan ketersediaan material yang dahulu cukup menjadi kendala kini mulai berkurang. Toko-toko di Samarinda sudah menyediakan semakin banyak pilihan material, sementara kebutuhan tertentu juga dapat didatangkan dari luar daerah.

“Kalau material sekarang untuk wilayah Kalimantan sudah cukup aman. Kalaupun harus inden, biasanya sekitar tiga atau empat hari. Toko-toko di Samarinda juga sudah mulai lengkap,” ujarnya.

Memasuki persaingan usaha yang semakin ketat, Syarif berharap para pelaku UMKM mebel lokal dapat terus meningkatkan kemampuan dan menjaga kualitas. Ia menilai kualitas produk menjadi salah satu kunci agar usaha mebel Samarinda mampu bersaing dengan produk dari luar daerah.

“Harapannya pekerja lokal bisa lebih maju dan berkembang wawasannya, lebih menjaga kualitas, sehingga kualitas kita bisa disamakan dengan produk dari luar pulau. Yang penting juga lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaan,” katanya.

Perjalanan Arief Mebel Samarinda selama lebih dari dua dekade menunjukkan bagaimana ketertarikan terhadap seni dapat berkembang menjadi peluang usaha. Dengan pengalaman, kreativitas, serta kemampuan mengikuti perkembangan desain dan material, usaha mebel lokal terus berupaya bertahan di tengah persaingan industri interior.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....