UMKM Samarinda Ciptakan Produk Rabuk Khas Kalimantan Kering Tahan Lama
- 05 Mei 2026 15:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Produk abon atau yang dikenal sebagai rabuk di Kalimantan, khususnya di Samarinda, memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari produk sejenis di daerah lain. Dalam dunia UMKM kuliner, keunikan produk menjadi nilai penting untuk memenangkan persaingan pasar. Hal itu disampaikan pelaku UMKM Kuliner Abon, Nur Asiah, saat dialog bersama RRI dalam program UMKM Bicara di Pro1 Samarinda.
Menurutnya, tektus produk abon yang ia produksi menjadi pembeda dengan produk abon yang lain di pasaran. “Kalau di Kalimantan bilangnya rabuk, tapi rabuk itu biasanya lebih basah,” ujarnya, dikutip Selasa 5 Mei 2026.
Perbedaan utama terletak pada tingkat kekeringan produk. Abon yang diproduksi dibuat lebih kering dibandingkan rabuk pada umumnya. “Kalau produk saya lebih kering, jadi dia tahan lama,” ucapnya.
Tekstur kering ini menjadi keunggulan karena mampu memperpanjang masa simpan tanpa bahan pengawet tambahan, sekaligus menjaga cita rasa tetap stabil. Daya tahan produk menjadi faktor penting, terutama bagi konsumen yang membutuhkan makanan praktis untuk perjalanan jauh.
“Kalau rabuk yang basah paling tahan seminggu di suhu ruang, setelah itu bisa berjamur,” kata dia.
Sebaliknya, abon kering miliknya bisa bertahan lebih lama sehingga aman dibawa ke berbagai kondisi perjalanan. Keunggulan ini menjadikan abon tersebut sebagai pilihan ideal untuk oleh-oleh maupun bekal ibadah.
“Sering dipesan untuk umrah dan haji karena praktis dibawa,” ujarnya.
Selain itu, produk ini juga diminati oleh pelancong yang bepergian ke luar negeri, terutama ke negara dengan keterbatasan makanan halal.
Tidak hanya itu, segmen pasar lain yang cukup besar adalah mahasiswa dan anak kos. “Anak-anak yang mondok atau mahasiswa sering dipesankan oleh orang tuanya,” ucapnya sambil tertawa. Hal ini menunjukkan, produk abon kering memiliki fleksibilitas tinggi sebagai lauk praktis untuk berbagai kalangan.
Dari segi varian, produk yang ditawarkan juga beragam, seperti abon sapi dan ikan haruan yang merupakan ikan khas Kalimantan. Untuk harga, produk ini tergolong terjangkau di kelasnya. “Yang sapi ukuran 110 gram sekitar 40 ribu, kalau haruan 45 ribu,” kata dia. Tersedia juga ukuran lebih kecil untuk menjangkau konsumen dengan kebutuhan berbeda.
Harga yang kompetitif menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan kualitas rasa dan daya tahan yang baik, produk ini dinilai sepadan bahkan relatif murah dibandingkan produk serupa di pasaran. “Saya rasa masih sangat terjangkau untuk kualitas seperti ini,” ujarnya.
Secara keseluruhan, keistimewaan abon khas Samarinda ini terletak pada teksturnya yang lebih kering, daya tahan yang lebih lama, serta fleksibilitas penggunaannya. Dengan kombinasi tersebut, produk ini tidak hanya menjadi lauk sehari-hari, tetapi juga solusi praktis untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perjalanan hingga konsumsi harian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....