Libatkan Generasi Muda, Kampung Ketupat Samarinda Jaga Warisan Budaya

  • 06 Apr 2026 02:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, upaya menjaga tradisi lokal menjadi tantangan tersendiri. Di Kampung Ketupat, regenerasi generasi muda menjadi kunci utama agar warisan budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat tetap hidup dan berkembang.

Ketua Pokdarwis Kampung Ketupat, Abdul Asiz, menegaskan bahwa pelibatan generasi muda terus diperkuat, terutama di kalangan remaja. Menurutnya, pengenalan sejak dini penting agar mereka tidak sekadar melihat tradisi sebagai rutinitas, tetapi memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Kami membina anak-anak muda supaya mereka mengenal ini sebagai kearifan lokal yang harus dijaga,” ujarnya, Senin 6 April 2026.

Pembinaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis membuat ketupat, tetapi juga pada penanaman nilai-nilai budaya, seperti gotong royong, kesabaran, dan ketelitian. Nilai-nilai ini dinilai penting untuk membentuk karakter generasi muda di tengah tantangan zaman yang serba instan.

Sejumlah generasi muda di kawasan tersebut kini mulai terlibat aktif dalam proses produksi. Mereka belajar langsung dari orang tua maupun pengrajin yang lebih berpengalaman, baik di rumah maupun dalam kegiatan bersama. Proses belajar yang berlangsung secara turun-temurun ini menjadi jembatan penting dalam menjaga kesinambungan tradisi.

Tak hanya itu, peran organisasi kepemudaan seperti karang taruna juga dimaksimalkan sebagai ruang belajar dan berkreasi. Melalui wadah ini, generasi muda didorong untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mencari inovasi agar produk ketupat memiliki nilai tambah, baik dari sisi kemasan maupun pemasaran.

Kampung Ketupat sendiri tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi makanan tradisional, tetapi juga mulai berkembang sebagai destinasi wisata berbasis budaya. Edukasi kepada pengunjung menjadi bagian penting, di mana wisatawan dapat melihat langsung proses pembuatan ketupat hingga memahami makna budaya yang menyertainya.

Abdul Asiz menekankan, keberlanjutan Kampung Ketupat tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi pada kemampuan masyarakat menjaga identitas budaya. Ia mengingatkan, tanpa regenerasi, tradisi yang telah lama diwariskan bisa tergerus zaman.

“Ini warisan yang harus dijaga. Kalau tidak ada yang melanjutkan, bisa saja hilang,” katanya.

Upaya yang dilakukan Kampung Ketupat ini menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal. Dengan melibatkan generasi muda, tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang dan beradaptasi di masa depan.

Ke depan, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk terlibat. Tidak hanya sebagai penerus, tetapi juga sebagai inovator yang mampu membawa warisan budaya lokal ke panggung yang lebih luas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....