Transaksi Digital Jadi Gaya Hidup Anak Muda
- 01 Sep 2025 10:48 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Cashless alias tanpa uang tunai kini jadi gaya hidup sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Menurut Emayanti Christina Hutabarat, S.Ak., M.Ak., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, tren ini mulai berkembang pesat sejak pandemi Covid-19. Pada masa itu, masyarakat enggan melakukan transaksi langsung dan memilih cara pembayaran yang lebih aman serta praktis.
Bank Indonesia sudah membaca tren ini sejak dini. Tepat pada 17 Agustus 2019, BI meluncurkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai terobosan baru dalam dunia transaksi digital. QRIS hadir untuk menyatukan berbagai metode pembayaran digital ke dalam satu sistem kode QR yang seragam.
“Sekarang, orang lebih takut ketinggalan handphone daripada dompet. Soalnya semua pembayaran bisa dilakukan lewat dompet digital atau aplikasi bank. Jadi transaksi lebih simpel dan masyarakat tidak perlu khawatir lagi,” ucap Emayanti.
Gen Z Paling Adaptif dengan Teknologi
Menurut Emayanti, generasi Z memiliki keunggulan dalam hal beradaptasi cepat dengan informasi baru dan teknologi. Mereka lebih terbuka, lebih fleksibel, dan lebih mudah menerima perubahan. Namun, di sisi lain, gaya hidup mereka juga cenderung bebas dan konsumtif.
“Sekarang kan banyak coffee shop yang jadi tempat nongkrong favorit Gen Z. Itu bikin pola konsumsi mereka meningkat. Jadi memang ada sisi positif dan negatif dari cashless bagi generasi ini,” katanya.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan QRIS hingga tahun 2025 diprediksi sudah mencapai 5,3 juta pengguna, dan dominasi paling besar datang dari kalangan Gen Z serta pelaku ekonomi digital. “Gen Z bisa jadi motor penggerak ekonomi lewat pola transaksi mereka, apalagi dengan maraknya platform belanja online yang semua sudah terhubung dengan dompet digital,” ujarnya.
Belum Merata di Semua Daerah
Meski QRIS sangat memudahkan transaksi, Emayanti menekankan bahwa penggunaan sistem ini masih belum merata. Di banyak daerah pedalaman, akses internet terbatas sehingga pembayaran digital sulit dilakukan.
“Kalau tidak ada internet, ya sama saja kita kesulitan. Di sinilah peran anak muda untuk mendorong orang tua dan masyarakat sekitar agar mau belajar dengan perkembangan teknologi. Jangan sampai tertinggal,” ucapnya.
Prediksi Masa Depan QRIS
Ke depan, inovasi transaksi digital akan terus berkembang. Bank Indonesia bahkan sudah melakukan kerja sama lintas negara. Contohnya, pembayaran menggunakan QRIS kini bisa dilakukan di Arab Saudi. Hal ini memudahkan jamaah haji dan umrah dari Indonesia yang biasanya harus menggunakan Visa atau Mastercard untuk bertransaksi.
“Dulu kalau kita mau bayar hotel di Jepang atau negara lain, harus pakai dolar. Belum lagi kena biaya administrasi konversi. Sekarang pakai QRIS lebih mudah karena langsung dengan rupiah tanpa biaya tambahan. Ini terobosan besar yang harus kita syukuri,” ucap Emayanti.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa meski cashless sudah jadi gaya hidup, tetap ada kondisi darurat yang mengharuskan masyarakat membawa uang tunai. “Saya pribadi tim cashless, tapi tetap harus ada uang cash di dompet. Jadi tetap fleksibel,” katanya.
Bijak Gunakan QRIS
Emayanti mengingatkan anak muda agar bijak memanfaatkan kemudahan transaksi digital. Pasalnya, menggunakan aplikasi pembayaran sering membuat orang tidak sadar sudah mengeluarkan banyak uang. “Kalau pegang Rp100 ribu di dompet, pasti terasa kalau uang itu habis. Tapi kalau di aplikasi, kadang baru sadar ketika saldonya sudah tipis. Itu yang harus diwaspadai,” pesannya.
Ia juga menambahkan, anak muda harus adaptif dan inovatif agar tidak tertinggal. Banyak bank digital sekarang menawarkan fitur menarik, mulai dari transfer tanpa biaya administrasi hingga bunga tabungan yang lebih tinggi.
“Kalau ada banyak hal baik dari perkembangan teknologi, kenapa tidak kita manfaatkan? Yang penting tetap bijak, tahu prioritas, dan jangan sampai cashless membuat kita konsumtif tanpa kendali,” kata Emayanti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....