Permintaan Global Batu Bara dan Sawit Menguat, Ekspor Kaltim Berpeluang Meningkat

  • 03 Jun 2026 11:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Sejumlah perkembangan ekonomi global sepanjang April hingga Mei 2026 diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap kinerja ekspor Kalimantan Timur. Sebagai salah satu daerah penghasil komoditas tambang dan perkebunan terbesar di Indonesia, Kalimantan Timur berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan global terhadap batu bara dan minyak sawit.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, menjelaskan sejumlah peristiwa internasional menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan perdagangan dunia. Salah satunya adalah gangguan pasokan minyak nabati global akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi internasional.

Kondisi tersebut membuat sejumlah negara importir mencari sumber pasokan alternatif yang lebih stabil. Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia menjadi salah satu negara yang diuntungkan karena meningkatnya permintaan dari pasar global terhadap komoditas tersebut.

Selain itu, harga minyak dunia juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Pada April 2026, harga minyak tercatat mencapai 111,31 dolar Amerika Serikat per barel atau meningkat 14,71 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dunia,” ujar Mas’ud Rifai saat menyampaikan rilis resmi BPS Kalimantan Timur pada Selasa 2 Juni 2026.

Di sektor energi, permintaan batu bara dunia juga menunjukkan tren yang terus menguat. India, sebagai salah satu konsumen batu bara terbesar dunia, meningkatkan impor batu bara termal menjadi 13,48 juta metrik ton pada April 2026, dengan sekitar 52 persen kebutuhan impornya dipasok dari Indonesia.

Peningkatan permintaan juga terjadi di Filipina. Negara tersebut tercatat mengimpor sekitar 40 juta ton batu bara, dan sekitar 98 persen pasokan yang digunakan berasal dari Indonesia, menunjukkan tingginya ketergantungan pasar regional terhadap batu bara nasional.

Meningkatnya kebutuhan batu bara di sejumlah negara turut mendorong kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional. Harga batu bara Newcastle pada April 2026 tercatat naik sebesar 0,3 dolar AS menjadi 132,6 dolar AS per ton dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Mas’ud, kombinasi antara kenaikan harga komoditas energi dan meningkatnya permintaan global berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor Kalimantan Timur. "Hal ini mengingat struktur ekspor daerah masih didominasi oleh komoditas pertambangan, khususnya batu bara, serta produk turunan sektor perkebunan," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....