Inflasi Balikpapan dan PPU Terkendali di Bawah Sasaran Nasional 2026

  • 09 Mei 2026 14:43 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID,Balikpapan - Bank Indonesia (BI) memastikan laju inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tetap stabil dan berada dalam sasaran nasional. Tren penurunan ini dipicu oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri serta terjaganya pasokan pangan di pasar.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyatakan keyakinannya bahwa inflasi di kedua wilayah tersebut akan tetap terkendali sesuai target nasional 2026, yakni sebesar 2,5 persen dengan deviasi plus-minus 1 persen.

"Kalau melihat survei, indeksnya masih di atas 100, tapi kalau dilihat dari potret inflasi, kita masih bisa menjaga pasokan tetap lancar," kata Robi kepada RRI pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Realisasi Inflasi April 2026

Berdasarkan data terbaru per April 2026, Kota Balikpapan justru mencatatkan deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, Kabupaten PPU mengalami inflasi tipis sebesar 0,33 persen (mtm), angka yang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 1,09 persen.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Balikpapan bertengger di angka 2,19 persen dan PPU di level 2,10 persen. Keduanya tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (2,42 persen) maupun rata-rata inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur (2,50 persen).

Kelompok Pangan Jadi Penekan Harga

Deflasi di Balikpapan utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas seperti daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, hingga bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan harga yang cukup berarti.

Melimpahnya pasokan ayam dari Pulau Jawa dan meningkatnya hasil tangkapan nelayan lokal menjadi faktor kunci melandainya harga di tingkat konsumen. Namun, sektor transportasi masih menyumbang inflasi akibat penyesuaian tarif tiket pesawat yang dipengaruhi kenaikan harga avtur.

Berbeda dengan Balikpapan, PPU masih mengalami inflasi ringan pada komoditas tomat, semangka, bawang merah, dan minyak goreng. Hal ini dipicu oleh faktor cuaca serta hambatan distribusi logistik dari luar daerah.

Waspada Risiko Kemarau

Meski saat ini terkendali, Bank Indonesia mengingatkan adanya risiko inflasi pada paruh kedua tahun 2026. Potensi musim kemarau panjang dikhawatirkan dapat mengganggu produktivitas lahan pertanian, terutama di daerah pemasok utama di Pulau Jawa.

Guna mengantisipasi hal tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat sinergi melalui operasi pasar murah, pemantauan jalur distribusi, serta program ketahanan pangan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....