Budidaya Melon di Desa Embalut

  • 26 Mar 2025 09:57 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Melon, buah yang dikenal dengan rasa manis dan aroma wangi, kini menjadi salah satu buah yang banyak digemari. Namun, untuk mendapatkan buah melon yang berkualitas, tingkat kematangan sangat mempengaruhi rasa dan aroma buah tersebut. Seiring berkembangnya minat masyarakat terhadap buah ini, budidaya melon kini menjadi usaha yang menjanjikan, terutama jika dilakukan dengan teknik dan kondisi yang tepat.

Di Desa Embalut, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, terdapat salah satu usaha budidaya melon yang dikelola oleh Bapak Sukarno bersama sang istri Ibu Suyati. Usaha ini sudah dimulai sejak tahun 2023. "Kami mulai mencoba budidaya melon ini tahun 2023, karena lahan yang ada sayang jika tidak dimanfaatkan," kata Pak Sukarno saat ditemui RRI.

Pak Sukarno, yang akrab disapa Pak Sukar, menjelaskan bahwa budidaya melon yang ideal berada pada kisaran ketinggian 250 hingga 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Jika tanaman melon ditanam di dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 250 meter, hasil yang diperoleh cenderung berupa buah yang kecil. Sebaliknya, di dataran tinggi dengan suhu di bawah 18°C, tanaman melon juga kesulitan untuk berkembang.

Tanah yang ideal untuk budidaya melon adalah jenis andosol atau tanah liat berpasir yang kaya akan bahan organik. Selain itu, pemilihan bibit yang tepat menjadi faktor krusial dalam mendapatkan hasil yang berkualitas. "Pemilihan bibit melon harus benar-benar dipilih dengan hati-hati. Jika bibitnya tidak bagus, pada saat panen serat jala di permukaan kulit tidak akan keluar, ini bisa dianggap sebagai gagal panen," jelas Pak Sukarno.

Melon yang ditanam membutuhkan waktu sekitar 70 hari untuk dipanen setelah tanam. Proses penyiraman disesuaikan dengan cuaca, di mana tanaman melon akan disiram jika tidak ada hujan selama dua hari berturut-turut. Pemupukan dilakukan sekali dalam seminggu. Saat musim hujan, drainase yang baik sangat penting agar tanah tidak tergenang air, karena tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah.

Namun, dalam budidaya melon, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi petani. Salah satunya adalah ketika daun melon sudah kering, namun buahnya belum siap dipanen, yang bisa berisiko menyebabkan kerugian. Faktor cuaca yang tidak menentu dan adaptasi tanaman juga memengaruhi hasil panen.

Ciri-ciri melon yang siap panen dapat dilihat dari tampaknya serat jala yang jelas dan kasar pada permukaan kulit melon. Jika melon tidak mengeluarkan serat jala ini, bisa dipastikan bahwa panen tersebut gagal. Meskipun demikian, jika melon berhasil dipanen dalam jumlah banyak, keuntungan yang diperoleh cukup signifikan. "Kalau bisa mengembalikan modal, itu sudah lebih dari cukup," ungkap Pak Sukarno.

Setelah panen, lahan biasanya langsung ditanami kacang panjang. Namun, kacang panjang pun bisa gagal tumbuh jika cuaca hujan terus-menerus. Oleh karena itu, setelah satu kali panen melon, lahan akan digunakan untuk menanam kacang tanah.

Saat panen terakhir, Pak Sukarno berhasil memanen sekitar 200 kg melon. Melon-melon tersebut sebagian besar dijual ke toko-toko buah di daerah L3 Tenggarong. "Harapannya kedepan, jika kami menanam lagi, semoga lebih baik. Kami juga berharap tidak kecolongan dalam membeli bibit yang salah, karena itu sangat berpengaruh pada keberhasilan panen," tutup Pak Sukarno.

Budidaya melon yang dijalankan oleh Pak Sukarno dan keluarganya ini menunjukkan potensi yang besar di bidang pertanian, meskipun tantangan cuaca dan pemilihan bibit menjadi faktor penting yang harus dihadapi oleh petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....