Angka Prevalensi Stunting Mahulu Naik Tiga Persen

  • 21 Agt 2025 09:28 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Mahulu: Kabupaten Mahakam Ulu mencatat kenaikan angka prevalensi stunting sebesar 3 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap pemenuhan gizi anak-anak usia dini di wilayah tersebut, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Peningkatan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting belum berjalan optimal.

Salah satu penyebab utama kenaikan prevalensi stunting ini adalah rendahnya pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan makanan bergizi. Banyak keluarga belum memahami cara mengkombinasikan makanan agar memenuhi kebutuhan gizi seimbang, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kebiasaan memasak makanan tanpa memperhatikan nilai gizi turut memperburuk situasi.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Mahakam Ulu, Petronela Tugan mengatakan, selain minimnya pengetahuan olahan makanan gizi yang baik, ketersediaan sumber protein alami di luar ikan tambak dan daging ayam broiler juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat kesulitan mengakses daging sapi, ikan laut, dan sumber protein lain yang lebih kaya nutrisi dan bebas dari bahan kimia tambahan. Ketergantungan pada produk yang mengandung zat aditif berdampak pada kualitas asupan gizi harian anak.

Baca juga: Mahulu Hadapi Kendala Gizi dalam Cegah Stunting

“Pravelensi Stunting di Mahulu data dari e-PPBGM Tahun 2024 sebesar 10,78 persen, sedangkan pada akhir Februari 2025 sebesar 13,7 persen, mengalami kenaikan sekitar 3 persen. Salah satu indikasi kenaikan yakni dipengaruhi oleh ketersedian bahan mahakan bergizi,” kata Petronela, Kamis (21/8/2025).

Kondisi geografis Kabupaten Mahakam Ulu yang didominasi akses transportasi sungai menyulitkan distribusi bahan makanan bergizi dari luar daerah. Hal ini menyebabkan harga pangan sehat menjadi mahal dan tidak terjangkau bagi sebagian besar warga, khususnya yang tinggal jauh dari pusat kecamatan.

Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini, seperti memberikan edukasi gizi kepada masyarakat, membangun sistem distribusi pangan yang merata, serta memperkuat ketahanan pangan lokal berbasis sumber daya alam yang tersedia secara alami dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....