Motif dan Warna Khas Bawa Batik Kaltim ke Pasar Dunia
- 02 Okt 2026 16:33 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Batik Kalimantan Timur punya ciri khas yang bisa menjadi kekuatan untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Selain motif yang mengambil kekayaan daerah, permainan warna menjadi salah satu cara perajin membedakan batik Kaltim dengan batik dari daerah lain.
Perajin Batik Putri Syafril Samarinda, Desy Soleha Syafril, mengatakan motif batik Kaltim tidak hanya berkaitan dengan budaya Dayak. Ada pula unsur Kutai, Melayu, flora, dan fauna yang bisa dikembangkan menjadi motif batik.
“Kalau berbicara masalah motif Kaltim ini banyak sekali. Orang selalu mengatakan motif Dayak, sebenarnya tidak seperti itu saja. Ada Melayu, dari Kutainya juga, ada motif flora dan fauna,” ujar Desy, kepada rri.co.id, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut Desy, masih banyak flora dan fauna khas Kaltim yang belum diangkat menjadi motif batik. Ia menyebut tanaman endemik, termasuk anggrek, serta fauna seperti pesut dan beruang sebagai contoh yang bisa dikembangkan.
Desy sendiri terus mencoba mengolah kekayaan tersebut menjadi desain baru. Baginya, setiap daerah memiliki kekayaan dan identitas masing-masing yang bisa menjadi sumber ide bagi para perajin.
Tidak hanya motif, Desy juga memilih warna-warna berani untuk memberikan karakter berbeda pada produknya. Ia memadukan warna tersebut dengan teknik lukis dan teknik lainnya, namun tetap mempertahankan batik sebagai dasar karyanya.
“Kita bermain warna. Kaltim punya ciri khas warna yang beda dengan batik yang lainnya. Warna-warna yang memang berani, kemudian saya kombinasikan dengan teknik lukis,” ucapnya.
Karakter tersebut kemudian ia bawa dalam sejumlah pameran di Pulau Jawa. Salah satunya di Yogyakarta, daerah yang dikenal dengan batiknya.
Desy mengatakan respons pembeli di Yogyakarta cukup baik. Salah satu motif yang mendapat perhatian adalah Seraung yang dibuat dengan warna dasar hitam dan dipadukan dengan motif Dayak.
“Saya waktu itu mengangkat motif Seraung. Warna dasarnya memang hitam, tapi Seraung itu warna-warni. Saya kombinasikan motif Dayak, di situ mereka bilang ini unik,” kata dia.
Dari pameran tersebut, Desy mengaku mendapat pembelian beberapa lembar batik. Bahkan pada tahun berikutnya, pembeli dari Yogyakarta kembali menghubunginya dan memesan sekitar 13 lembar batik.
Tak hanya di Pulau Jawa. Sekitar tujuh tahun lalu, karya Desy juga pernah dibawa ke Australia dalam sebuah pameran.
Saat itu, ia memperkenalkan batik dengan konsep yang terinspirasi dari bahasa Kutai. Produk tersebut diberi nama Batik Tepek atau batik pukul, dengan teknik pembuatan menggunakan perintang lilin malam.
“Waktu itu saya punya ide bikin batik pakai bahasa Kutai karena saya sendiri asli orang Kutai. Saya namakan Batik Tepek, batik pukul,” ujar Desy.
Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, produk Desy juga mulai mendapat pesanan dari Malaysia. Desy bercerita, pesanan itu bermula ketika sejumlah orang dari Malaysia berkunjung ke galerinya.
Mereka melihat pakaian yang sudah jadi dan tertarik membuat pakaian dengan kain batik miliknya. Ia mengatakan dari pesanan tersebut, tujuh pakaian dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hari.
Menurut Desy, pengalaman itu pun menjadi salah satu bukti bahwa batik Kaltim memiliki peluang untuk dikenal di luar daerah hingga mancanegara.
"Alhamdulillah, saya setuju kalau batik Kaltim ini bisa bersaing dengan batik lainnya," ujarnya.
Karena itu, Desy mengajak perajin batik Kaltim tidak berhenti mencari ide baru. Ia berharap kekayaan flora dan fauna daerah semakin banyak diangkat sehingga batik Kaltim memiliki identitas yang semakin kuat.
“Batik ini identitas negara kita. Mari kita angkat flora fauna yang masih banyak belum diangkat. Itu akan memperkaya motif batik dan identitas dari Provinsi Kalimantan Timur,” ucapnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....