Abut di Banua: Menjaga Tradisi dan Pesta Rakyat di Kabupaten Berau

  • 30 Sep 2026 19:17 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat Kabupaten Berau kembali menggelar tradisi tahunan "Abut di Banua" untuk memperingati hari jadi daerah. Pesta rakyat ini diisi dengan rangkaian ritual adat, perlombaan perahu panjang, hingga pesta makan ikan bersama di sepanjang tepian sungai.

Tradisi ini menjadi ruang kumpul warga sekaligus momen untuk mempererat kebersamaan. Lewat perayaan ini, masyarakat diajak untuk terus melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak tergerus zaman.

Acara inti dalam perayaan ini dimulai dengan prosesi baturunan, yaitu menurunkan perahu panjang berkepala naga ke Sungai Segah. Sebelum perahu diturunkan untuk lomba dayung, tetua adat menggelar ritual doa dan sesaji demi keselamatan para pendayung.

Kemeriahan dilanjutkan dengan tradisi menutung jukut atau membakar ikan bersama. Sepanjang tepian sungai dipenuhi deretan tempat pembakaran ikan yang bisa dinikmati warga secara gratis sebagai bentuk rasa syukur atas hasil alam.

Kehadiran dua kesultanan, yakni Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur, makin memperkuat nilai sejarah dalam perayaan ini. Kedua pihak berbagi peran dalam memimpin prosesi adat agar seluruh lapisan masyarakat dapat terlibat.

Pegiat budaya Berau, Agay Wahab, menekankan pentingnya menjaga esensi dari pesta rakyat ini bagi generasi muda.

"Abut itu artinya meramaikan banua, tapi tetap menjaga nilai budaya. Tradisi tetua kita harus terus dikenalkan kepada anak muda agar tidak hilang begitu saja," kata Agay Wahab, pada Jumat 25 September 2026.

Selain menghibur warga lokal, festival budaya ini juga menarik perhatian warga perantauan. Banyak warga yang memanfaatkan momen ini untuk melepaskan kerinduan akan kampung halaman dan kebudayaan daerah.

Pemerintah daerah dan masyarakat berharap tradisi ini tidak sekadar menjadi hiburan tahunan, tetapi juga mampu mendorong sektor pariwisata kebudayaan di Kabupaten Berau.

Melalui kemeriahan "Abut di Banua", warga Berau membuktikan bahwa tradisi lokal tetap bisa bertahan dan menjadi pemersatu di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....