Bukan Sekadar Jamuan, Ini Filosofi ‘Raja Manunggal Bersama Rakyat’ di Erau 2026
- 20 Sep 2026 09:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Tenggarong - Tema “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya” menjadi pesan utama dalam pelaksanaan Erau 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Tema tersebut tidak hanya menggambarkan tradisi kerajaan dalam menjamu masyarakat, tetapi juga menyimpan filosofi tentang kepemimpinan dan kedekatan pemimpin dengan rakyat.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan pemilihan tema tersebut memiliki makna yang mendalam. Raja dalam konteks budaya Kutai tidak ditempatkan sebagai sosok yang berjarak dengan rakyat, melainkan hadir dan menyatu bersama masyarakat.
“Raja manunggal bersama rakyatnya, raja menjamu rakyatnya. Ini memiliki filosofi kepemimpinan yang sangat mendalam,” kata Aulia saat pembukaan Erau 2026 di Stadion Rondong Demang, Minggu, 20 September 2026.
Menurutnya, kata manunggal mencerminkan adanya hubungan yang erat antara pemimpin dan masyarakat. Kepemimpinan tidak hanya dimaknai sebagai kedudukan atau kekuasaan, tetapi juga sebagai kemampuan untuk hadir, berinteraksi dan membangun kebersamaan dengan rakyat.
Sementara konsep raja menjamu rakyatnya menggambarkan sikap seorang pemimpin yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan menikmati kebersamaan. Dalam konteks Erau, tradisi tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai pertunjukan budaya dan kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Aulia mengatakan filosofi tersebut tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan pemerintahan saat ini. Menurut dia, pemimpin harus mampu membangun kedekatan dengan masyarakat dan memastikan pembangunan tidak meninggalkan rakyat sebagai bagian penting dari daerah.
“Pemimpin harus bersama rakyatnya. Ada kebersamaan, ada rasa memiliki, dan ada tanggung jawab untuk membangun daerah bersama-sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, Erau bukan sekadar pesta adat yang digelar setiap tahun. Perhelatan tersebut merupakan bagian dari warisan leluhur sekaligus identitas budaya Kutai Kartanegara yang perlu terus dijaga.
Karena itu, pelaksanaan Erau 2026 tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Terlebih, Erau telah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Menurut Aulia, posisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat memiliki daya tarik yang lebih luas dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang dikenal hingga dunia.
“Erau membuktikan bahwa kebudayaan kita bukan hanya menjadi daya tarik lokal, tetapi juga bisa menjadi barometer budaya nasional untuk menarik minat dunia,” katanya.
Rangkaian Erau 2026 berlangsung pada 20–27 September. Melalui tema “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”, perhelatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan seremoni, tetapi turut menghidupkan kembali nilai kebersamaan, kepemimpinan dan hubungan erat antara pemimpin dengan masyarakat yang diwariskan dalam budaya Kutai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....