Sandima Digitalisasi Arsip Sejarah dan Naskah lewat Buku dan Website
- 19 Sep 2026 18:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Komunitas Sandiwara Mamanda (Sandima) mulai mendokumentasikan sejarah dan berbagai arsip kesenian Mamanda melalui platform digital. Upaya tersebut dilakukan dengan meluncurkan situs digital heritage dan e-book Sandima bertajuk "Elansyah dan Sandiwara Mamanda: Biografi Sang Pelestari Warisan Budaya Takbenda Indonesia" secara simbolis dalam Pagelaran Akbar di Teras Samarinda, Jalan Gajah Mada, Selasa, 15 September 2026.
Ketua Program sekaligus Sekretaris Sandima, Elsya, menjelaskan Sandima selama ini belum banyak memiliki dokumentasi yang tersimpan secara digital. Padahal, digitalisasi perlu dilakukan agar seni tradisional mampu beradaptasi.
“Semakin majunya teknologi, kita harus beradaptasi juga. Yang awalnya Sandima ini tidak pernah berurusan dengan administrasi dan segala macam, makin ke sini kita sudah mulai terbiasa dan belajar satu per satu,” ujar Elsya, dikutip pada Sabtu, 19 September 2026.
Melalui website, film dokumenter, dan e-book, Elsya dan kawan-kawan mengumpulkan kembali arsip yang berasal dari perjalanan kesenian tersebut. Dokumentasi itu mencakup sejarah Sandima sekitar 50 tahun lalu, foto-foto lama, hingga hasil wawancara dengan para pengurus Sandima terdahulu.
Elsya mengatakan, pengumpulan arsip dilakukan selagi para maestro Sandima masih dapat ditemui dan diwawancarai.
“Maestro di umurnya sampai mana kita tidak tahu. Mumpung beliau masih aktif, masih sehat, kita berusaha memperjuangkan itu, melestarikan seni budaya lewat digitalisasi,” ucapnya.
Isi e-book juga tidak hanya berupa sejarah Sandima. Dokumentasi tersebut memuat karakter dalam Sandiwara Mamanda, mulai dari raja, ratu hingga putri, termasuk pakaian, aksesori, perilaku tokoh, cara menyampaikan titah, dan naskah-naskah Sandima.
Elsya pun berharap, digitalisasi Sandima membuat seni budaya ini lebih mudah diakses masyarakat. Dokumentasi tersebut juga bisa menjadi bahan bagi masyarakat yang ingin mengenal atau mempelajari Sandiwara Mamanda lebih dalam.
“Selama ini orang datang ke Sekretariat Sandima untuk penelitian atau mencari bahan perkuliahan, tapi belum bisa diakses karena enggak tersusun arsipnya. Jadi mereka kalau mau baca-baca, melihat dokumentasinya sekarang bisa di e-book yang dapat diakses di website,” kata Elsya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....