Pagelaran Sandima 2026, Bawa Seni Tradisi Lebih Dekat dengan Generasi Muda
- 16 Sep 2026 12:28 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pagelaran Akbar Sandiwara Mamanda (Sandima) 2026 sukses memukau masyarakat Kota Tepian, khususnya generasi muda, dengan menyajikan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka. Pertunjukan yang digelar di Teras Samarinda, Jalan Gajah Mada, Selasa 15 September 2026 pukul 19.30 Wita itu mengangkat fenomena kegemaran anak muda menonton drama Korea dan drama China dalam lakonnya.
Ketua Program sekaligus Sekretaris Sandima, Elsya, mengatakan cerita tersebut memang sengaja dibuat dekat dengan keseharian anak muda. Cara itu digunakan agar generasi Z dan generasi Alfa lebih mudah mengenal Sandima.
“Sebab tujuan kami agar bagaimana melestarikan tradisi dan membuat anak-anak muda, khususnya generasi Z dan Alfa tahu tentang tradisi di Kota Samarinda,” kata Elsya.
Dalam lakon yang dimainkan malam itu, diceritakan seorang anak dari rakyat biasa tiba-tiba pergi tanpa kabar. Sang ibu kemudian menghadap raja dan meminta bantuan untuk mencari anaknya.
Setelah ditemukan, anak tersebut mengungkap alasan kepergiannya yang berkaitan dengan kegemarannya menonton drama Korea dan drama China.
Cerita itu semakin hidup lewat kepiawaian para pemain membawakan karakter masing-masing. Balutan komedi dan selipan pantun beberapa kali mengundang gelak tawa penonton.
"Memang Sandima selalu mengangkat isu-isu yang lagi tren. Maksud kami bukan kita Fear of Missing Out (FOMO), tapi supaya lebih relate sama kehidupan sehari-hari," ucap Elsya, menegaskan.
Ketertarikan generasi muda terhadap Sandima, lanjutnya, juga terlihat dalam rangkaian kegiatan sebelum pagelaran.
Pada pertengahan Agustus 2026, komunitas ini sempat menggelar workshop regenerasi yang melibatkan kepala sekolah, siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), mahasiswa, hingga masyarakat umum.
"Mereka yang awalnya belum tahu tentang Sandima, mereka belajar dan hari kedua langsung praktek. Di situ akhirnya mereka ngerasa 'oh ternyata teater tradisional itu enggak sekaku dan sekuno itu.' Bahkan sebelum pagelaran mereka tanya gimana caranya mau nonton," kata Elsya.
Mendapat Dukungan DPR RI
Pagelaran Sandima 2026 rupanya mendapat dukungan dari Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian. Elsya mengatakan, kegiatan tersebut bermula setelah Komunitas Sandima mengikuti seleksi Karya Budaya Etam dan masuk dalam 10 besar yang mendapatkan bantuan hibah.
“Alhamdulillah kami masuk 10 besar Karya Budaya Etam dan mendapatkan hibah. Bantuan itu kami gunakan untuk menjalankan program selama dua bulan,” kata Elsya.
Program tersebut mulai dari workshop regenerasi Sandima yang diikuti generasi muda, hingga digitalisasi budaya berupa pembuatan dokumenter, buku digital (e-book) dan website digital heritage Sandima yang resmi diluncurkan pada malam pagelaran akbar.

Melihat semangat itu, Hetifah Sjaifudian menyampaikan apresiasinya kepada panitia, para seniman, budayawan, generasi muda, dan masyarakat yang terus menjaga serta menghidupkan kebudayaan daerah. Bahkan tak sekadar melestarikan, tapi mampu memberikan ruang bagi siapa pun untuk ikut terlibat.
“Saya sangat bangga dapat mendukung kegiatan ini. Bagi kita, kebudayaan bukan hanya tentang menjaga warisan, tapi juga bagaimana kita memberi ruang bagi pemajuan kebudayaan untuk berkarya, berkreasi, membangun masa depan dengan identitas yang kuat,” ujar Hetifah, dalam tayangan video yang diputar saat pagelaran.
Ia pun berharap Sandima dapat menjadi ruang bertemunya kreativitas dan kebersamaan sekaligus mendorong masyarakat untuk terus mencintai budaya daerah.
“Sukses selalu untuk penyelenggara dan teman-teman semuanya yang hadir hari ini. Percayalah, semangat kita untuk berkumpul bersama dalam karya,” ujarnya, menambahkan.
Rasa Syukur atas Raihan WBTb

Selain menjadi upaya memperkenalkan seni tradisi kepada masyarakat, Pagelaran Akbar Sandima 2026 juga menjadi bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab atas predikat baru yang diraih Sandima setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2026. Sebagaimana disampaikan Maestro Sandima, Elansyah Jamhari.
Elansyah mengatakan, penetapan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pelaku Sandima. Namun, predikat sebagai WBTb juga membawa tanggung jawab untuk memastikan seni tradisi ini tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sandima ini tidak hanya milik orang Kalimantan Timur, tapi sudah milik Indonesia. Jadi kita semuanya mempunyai rasa tanggung jawab untuk terus melestarikan seni tradisi yang namanya Sandima,” ujar Elansyah.
Namun beban yang ia pikul kini sedikit mulai terangkat. Sebab Elansyah mengungkapkan, saat ini Sandima mulai memiliki generasi penerus. Ia menyebut, sudah ada dua generasi yang mengikuti proses pembelajaran dan regenerasi Sandima.
“Kami bangga karena ada dua generasi yang sudah ikut belajar. Ada generasi Z Sandima dan ada lagi generasi yang baru dilantik. Jadi kami berharap generasi-generasi ini nanti bisa meneruskan Sandima,” ucapnya, penuh harap.
Menurut Elansyah, keberadaan generasi baru menjadi bagian penting dari perjalanan Sandima setelah mendapatkan pengakuan sebagai WBTb. Karena ia menilai, pelestarian tidak cukup dengan melakukan pertunjukan, tetapi juga memastikan ada bibit baru yang mengenal, mempelajari, dan memainkan Sandima di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....