Rendang hingga Malamang, Kuliner Khas Minang Wajib Hadir saat Lebaran
- 29 Jul 2026 07:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perayaan hari raya Idulfitri dalam tradisi Minangkabau tidak pernah lepas dari kehadiran ragam olahan kuliner otentik yang kaya akan rempah. Sajian seperti rendang, kue sapik, dan lemang (lamang) merupakan pilar utama dalam perayaan Barayo yang resep serta teknik pembuatannya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Proses pembuatan rendang (merandang) menjelang lebaran memiliki rekam jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Penggunaan bumbu rempah alami serta santan berkualitas dari wilayah pesisir menghasilkan olahan daging yang mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet, sekaligus menjadi hidangan utama kebanggaan setiap keluarga saat menyambut tamu.
Sajian khas lainnya yang tidak boleh terlewatkan adalah kue sapik, yaitu kudapan cetak tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan kental. Proses pembuatannya yang secara tradisional memanfaatkan cetakan besi di atas panggangan bara tempurung kelapa menghasilkan tekstur renyah serta cita rasa gurih khas yang selalu dirindukan oleh para perantau.
Di samping itu, terdapat tradisi malamang yang mengandalkan bahan utama beras ketan yang dimasak di dalam bilah bambu berlapis daun pisang muda. Pembakaran bambu di atas bara api memerlukan teknik pembagian jarak dan pemutaran yang presisi agar lemang matang secara sempurna, berminyak, serta mengeluarkan aroma wangi yang khas saat disajikan bersama tapai ketan hitam.
Narasumber Pantas Minang, Uda Men, menerangkan akar sejarah di balik kebiasaan masyarakat meracik rendang sebagai hidangan yang tahan lama.
"Zaman dahulu orang pergi berdagang atau ke Makkah naik kapal berbulan-bulan. Masakan yang tahan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan itu adalah rendang. Makanya setiap rumah saat tradisi barayo seperti wajib membuat rendang," kata Uda Men pada Sabtu 25 Juli 2026.
Ragam kuliner dalam tradisi Barayo menjadi bukti nyata bagaimana seni memasak mampu menjadi jembatan perekat hubungan sosial. Melalui kebiasaan saling mengantar dan membagikan makanan antar kerabat maupun tetangga, kuliner khas Minangkabau terus mengukuhkan posisinya sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....