Tujuh Tradisi Barayo Pererat Tali Silaturahmi Masyarakat Minangkabau

  • 29 Jul 2026 07:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Tradisi "Barayo" atau perayaan Idulfitri dalam kebudayaan Minangkabau menyimpan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang sangat kuat. Hingga saat ini, sedikitnya terdapat tujuh rangkaian tradisi utama yang terus dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat Sumatera Barat, baik yang bermukim di kampung halaman maupun yang tersebar di wilayah perantauan.

Rangkaian tradisi tahunan tersebut meliputi pulang basamo (mudik bersama), manjalang mintuo (mengunjungi mertua), manambang (anak-anak berkunjung mengumpulkan salam tempel), merandang (memasak rendang), mambuat kue sapik (membuat kue semprong/kue jepit khas), malamang (membuat lemang), serta tradisi penyambutan malam takbiran. Seluruh prosesi tersebut dipandang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana utama mempererat silaturahmi antaranggota keluarga dan tetangga.

Dua elemen hidangan, yakni tradisi merandang dan mambuat kue sapik, menjadi suguhan yang dinilai wajib hadir di setiap rumah warga Minang saat hari raya. Tanpa memandang latar belakang ekonomi, kehadiran olahan rendang daging dan kue sapik khas menjadi simbol keterbukaan serta penghormatan tinggi dalam menyambut para tamu yang datang berkunjung.

Sementara itu, tradisi malamang yang dilakukan beberapa hari menjelang lebaran memegang peranan sosial yang tak kalah penting. Olahan ketan dalam selongsong bambu tersebut dibuat khusus untuk dihantarkan kepada orang tua, mertua, maupun kerabat terdekat sebagai bentuk rasa hormat dan penanda eratnya hubungan kekeluargaan sebelum hari kemenangan tiba.

Tokoh masyarakat Minangkabau, Uni Yet, menegaskan bahwa sajian khas seperti kue sapi memiliki makna simbolis yang sangat mendalam dalam momen perayaan Idulfitri.

"Bisa dikatakan wajib hadir merandang dan kue sapik itu saat lebaran. Tidak afdal rasanya kalau di rumah tidak ada kue sapik, karena hadirnya kue sapi itu menjadi tanda kita berlebaran," ujar Uni Yet saat menjelaskan kebiasaan masyarakat Minang dalam dialog Pantas Minang pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Keberlanjutan tradisi Barayo di tengah arus modernisasi membuktikan ketangguhan kearifan lokal Minangkabau. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat terus dijaga dan diwariskan secara konsisten kepada generasi muda Minang di mana pun mereka berada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....