Tenun Donggala Terancam Punah, SMK Diusulkan Cetak Penenun Muda
- 27 Jul 2026 10:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Donggala – Denting alat tenun tradisional masih terdengar dari rumah-rumah penenun di Desa Towale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Bunyi kayu yang saling beradu menjadi penanda bahwa tradisi menenun Buya Sabe masih bertahan. Namun, di balik keindahan kain yang dihasilkan, tersimpan kekhawatiran akan keberlangsungan warisan budaya tersebut.
Di tangan para perempuan Desa Towale, benang-benang disusun dengan telaten hingga menjadi selembar kain yang sarat makna. Setiap motif yang dihasilkan bukan hanya memiliki nilai seni, tetapi juga merekam perjalanan sejarah dan identitas budaya masyarakat Donggala. Tradisi itu telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Dilansir dari Indonesia.go.id, sebagian besar penenun Buya Sabe kini telah berusia lanjut. Keriput di jemari mereka menjadi saksi puluhan tahun dedikasi menjaga tradisi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena belum banyak generasi muda yang meneruskan keahlian menenun.
Menjawab tantangan itu, Pemerintah Kabupaten Donggala mengusulkan pembukaan jurusan khusus Tenun Donggala di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Gagasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala, Rustam Efendi, saat pembukaan Buya Subi Festival 2026 di kawasan Pantai Karampuana, Desa Towale pada bulan Juli 2026.
"Kami meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk membuka jurusan khusus Tenun Donggala di SMK yang siswanya adalah remaja putri," ujar Rustam Efendi. Menurutnya, pendidikan vokasi menjadi langkah strategis untuk menyiapkan generasi penerus yang mampu melestarikan tenun khas Donggala sekaligus mengembangkan nilai ekonominya.
Saat ini, Desa Towale dan Desa Limboro masih menjadi dua sentra utama tenun Donggala dengan sekitar 200 penenun aktif. Mereka merupakan penjaga terakhir pengetahuan tradisional yang diwariskan dari ibu kepada anak. Namun, mayoritas penenun telah memasuki usia senja sehingga regenerasi menjadi kebutuhan yang mendesak.
Melalui pembukaan jurusan khusus di SMK, pemerintah berharap lahir generasi penenun muda yang mampu menjaga keberlanjutan Tenun Donggala. Upaya ini tidak hanya bertujuan melestarikan warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal sehingga kain Buya Sabe tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....