Pakaian Tradisional Kulit Kayu, Jadi Perhatian Pengunjung Bakudung Batiung 2026
- 02 Jul 2026 06:38 WIB
- Samarinda
Kemeriahan penutupan Festival Budaya Bekudung Batiung yang dirangkai dengan peringatan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-263 di Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Selasa (30/6/2026) malam, tidak hanya menyuguhkan pertunjukan seni dan budaya. Perhatian ratusan pengunjung justru tertuju pada pakaian adat berbahan kulit kayu yang dikenakan sejumlah peserta.
Busana tradisional yang dikenal sebagai Upak Nyamu atau Baju Nyamu itu menjadi salah satu ikon budaya yang paling menarik perhatian. Banyak pengunjung memanfaatkan kesempatan untuk berfoto bersama para pemakainya, sehingga keberadaan mereka selalu dipadati warga sepanjang acara.
Kampung Tumbit Dayak sendiri terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Kabupaten Berau melalui Festival Budaya Bekudung Batiung yang rutin digelar setiap Juni. Meski berkembang mengikuti modernisasi, masyarakat tetap menjaga warisan leluhur, mulai dari kesenian, kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga pakaian adat berbahan kulit kayu.
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Upak Nyamu merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Bahan pakaian ini berasal dari kulit pohon tertentu yang diolah secara tradisional melalui proses pemukulan, pengeringan, hingga menghasilkan lembaran serat yang kuat, lentur, dan nyaman dikenakan. Di sejumlah daerah lain di Kalimantan, bahan serupa juga dikenal sebagai Baju Sangkarut.
Lebih dari sekadar busana adat, Upak Nyamu mengandung nilai filosofi tentang keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Proses pembuatannya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dayak dalam memanfaatkan hasil hutan secara bijaksana tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Kehadiran Upak Nyamu pada penutupan Festival Budaya Bekudung Batiung menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas.
Antusiasme pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menunjukkan bahwa pakaian adat tidak hanya memiliki fungsi seremonial, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang menarik. Sejumlah wisatawan bahkan terlihat mencari informasi mengenai sejarah, filosofi, dan proses pembuatannya setelah menyaksikannya secara langsung.
Festival Budaya Bekudung Batiung kembali membuktikan perannya sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Melalui Upak Nyamu, masyarakat diajak mengenal lebih dekat identitas budaya Dayak yang sarat nilai sejarah, kreativitas, dan penghormatan terhadap alam, sehingga warisan leluhur tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. (DiskominfoBerau-IKP/Er/Hd)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....