Bedah Buku 'Burakat Banua' Upaya Lestarikan Akar Budaya dan Sejarah Berau

  • 30 Jun 2026 14:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau menggelar kegiatan Bedah Buku berjudul “Burakat Banua” karya Putri Aida Syafrisni. Kegiatan dilaksanakan di lantai I Kantor Dispusip Berau, pada hari Selasa 30 Juni 2026 itu, sebagai wujud nyata dukungan dalam melestarikan warisan budaya daerah.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta pemangku kepentingan. Sebagai pembicara, hadir tiga narasumber utama: penulis buku Putri Aida Syafrisni, Staf Ahli PKK Rohaini, serta Jafung Dinas Komunikasi dan Informatika Agustiah. Kegiatan dipandu secara luwes oleh Evi Sulistyaningsih sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Rabiatul Islamiah menyampaikan Kabupaten Berau dikaruniai kekayaan luar biasa meliputi sejarah panjang, adat istiadat yang beragam, budaya, bahasa daerah, serta sumber daya alam yang melimpah. Ia menegaskan bahwa keberadaan Berau terbentuk melalui perjalanan waktu yang panjang, sehingga membutuhkan upaya bersama agar warisan tersebut tidak punah.

Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, saat membuka secara resmi kegiatan Bedah Buku berjudul “Burakat Banua” karya Putri Aida Syafrisni, Selasa 30 Juni 2026. (Foto: Diskominfo Berau)

“Buku Burakat Banua ini menjadi salah satu bentuk pendokumentasian, pelestarian, dan pemaknaan ulang nilai-nilai budaya, sejarah, serta adat istiadat kita,” ujarnya.

Meski di tengah kondisi efisiensi anggaran yang memengaruhi berbagai program, Dispusip tetap berkomitmen menerbitkan buku-buku bertema kearifan lokal sesuai kemampuan keuangan. Harapannya, karya ini dapat menjadi referensi bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat luas, serta membuat generasi muda tetap mengenal akar budayanya dan bangga mengembangkannya secara kreatif.

“Semoga buku ini menjadi awal lahirnya lebih banyak karya sejenis, sehingga budaya kita tetap hidup dan bermanfaat bagi kemajuan daerah,” katanya menambahkan.

Penulis buku, Putri Aida Syafrisni, menyampaikan kekhawatirannya. Menurutnya, kekayaan pengetahuan tradisional di Berau seringkali hanya tersimpan dalam ingatan para tetua. Jika tidak didokumentasikan, maka ilmu tersebut dapat hilang seiring berjalannya waktu.

“Berau sangat kaya akan pengetahuan, tapi saya khawatir ilmu itu akan lenyap jika hanya dimiliki satu orang. Oleh karena itu, ilmu harus ditulis. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan berakar dari budaya itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengutip pandangan Bagus Mulyadi yang menyatakan bahwa suatu bangsa tidak akan berkembang jika terputus hubungan dengan sejarah dan leluhurnya.

Narasumber kedua, Rohaini, memaknai judul buku tersebut sebagai “akar yang paling dalam” yang menjadi tumpuan kekuatan. “Seperti akar pohon yang kokoh, jika akarnya kuat, maka pohon akan tumbuh subur, berdaun rindang, berbungaan, dan berbuah lebat. Begitu pula budaya, jika akarnya terjaga, maka kehidupan masyarakat akan tetap kokoh,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan, gambar Keraton Sambaliung pada sampul buku memiliki kaitan erat dengan isi karya tersebut. Penulisan buku ini memakan waktu bertahun-tahun, melibatkan riset mendalam serta wawancara dengan berbagai narasumber, sehingga layak dijadikan buku acuan pendamping sejarah Kabupaten Berau.

Sementara itu, Agustiah menyampaikan, ia hadir untuk meninjau substansi isi buku dari sisi pengalaman praktis, sebagai bagian dari upaya memastikan pesan budaya yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh khalayak luas.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan bersama agar buku Burakat Banua dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Berau, serta menginspirasi lebih banyak karya pelestarian budaya di masa mendatang. (Foto: DiskominfoBerau/IKP-yar)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....