Menyatukan Keberagaman Sub-Dialek Kutai lewat Medium Puak Melanti

  • 30 Jun 2026 10:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Eksistensi bahasa Kutai di Kalimantan Timur rupanya menyimpan kekayaan sosiolinguistik yang sangat kompleks karena terbagi ke dalam berbagai sub-dialek atau puak. Mulai dari Puak Kedang, Puak Pantun di kawasan pedalaman, hingga Puak Melanti yang mendominasi kawasan pesisir dan perkotaan. Keberagaman struktural ini memerlukan satu titik temu linguistik agar komunikasi antarpenduduk asli tetap terjaga tanpa kehilangan akar budayanya.

Dalam sejarahnya, peradaban Kutai dikenal sangat inklusif sejak zaman kerajaan, di mana asimilasi antarsuku telah membentuk karakteristik penutur yang unik. Puak Melanti, misalnya, lahir dari proses perkawinan budaya yang intens antara masyarakat Kutai dengan suku pendatang seperti Bugis, Banjar, Cina, hingga Sumatera. Karakteristik puak inilah yang kemudian bertransformasi menjadi bahasa Melayu Kutai yang paling universal dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Pegiat budaya lokal, Busu Ipay, memaparkan betapa kontrasnya perbedaan kosakata antara wilayah pedalaman dan perkotaan seperti Tenggarong. Sebagai contoh, masyarakat perkotaan biasa menyebut kata sungai dengan istilah luah, sementara masyarakat pedalaman zaman dahulu menggunakan kata batangan. Begitu pula dengan penyebutan benda-benda esensial lainnya yang sering kali memicu kesalahpahaman jika tidak dipahami batasannya.

"Kalau di tempat kami dia bilang uang tuh pitis, kalau di Menamang tuh dia bilang itangnya. Kalau kita bilang air itu ranam, kalau dia aeng, jauh bedanya," ujar Busu Ipay menjabarkan keragaman linguistik tersebut dalam Pantas Kutai, dikutip Selasa 30 Juni 2026. Akibat perbedaan yang tajam ini, Puak Melanti atau bahasa Kutai Tenggarong sering dijadikan bahasa pemersatu saat berbagai puak bertemu.

Busu Ipay menambahkan, keunikan ragam puak ini juga tercermin dari intonasi atau cara berbicara masyarakat pedalaman Muara Kaman yang dikenal berayun. "Tinjau kelinjau kan itu, makanya digelari orang bahasa pantun, berayunnya tegak (seperti) orang berpantun tuh bahasanya," ujarnya menggambarkan keindahan ritme tutur lirik tradisional. Namun jika tingkat kesulitan puak pedalaman terlalu tinggi, masyarakat akan otomatis kembali menggunakan bahasa Tenggarong demi kelancaran komunikasi.

Sementara itu, pelaku seni Busu Zoel menyatakan realitas keberagaman sub-dialek ini menjadi tantangan sekaligus materi yang kaya untuk diabadikan ke dalam lirik lagu tingkilan. Pada karya-karya awal, ia sengaja memilih Puak Melanti sebagai basis lirik utama karena sifatnya yang inklusif bagi telinga masyarakat lintas suku. Namun ke depannya, eksplorasi terhadap Puak Pantun yang lebih kuno dan puitis tetap menjadi target pelestarian berikutnya.

"Bahasa Kutainya tadi lebih parah (condong) ke Puak Melanti. Kendia (nanti) ada lagi tuh, mudah-mudahan berikutnya mun (kalau) lagu ini dirilis olahkan pulang yang bujur-bujur bahasa Kutai Puak Pantun," ujar Busu Zoel optimis. Pemetaan ragam puak melalui karya seni bersuara ini diharapkan mampu mempertegas identitas kolektif masyarakat Kutai di tengah masifnya modernisasi wilayah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....