Baritan Lereng Gunung Raung: Simbol Kegotongroyongan dan Guyub Rukun

  • 28 Jun 2026 13:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam sebuah upacara tradisional sering kali memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar pemenuhan ritual keagamaan. Upacara adat terbukti mampu menjadi instrumen sosiologis yang ampuh dalam mempererat tali persaudaraan, menjaga kohesi sosial, dan menghidupkan kembali semangat kebersamaan warga.

Fenomena kebersamaan inilah yang melatarbelakangi ulasan mengenai dimensi sosial tradisi Baritan Lereng Gunung Raung dalam program Pantas Jawa pada Kamis, 25 Juni 2026. Siaran edukatif yang mengudara di frekuensi Pro 4 RRI Samarinda ini menyoroti bagaimana kebudayaan mampu membentuk karakter masyarakat yang solid.

Esensi utama dari pergelaran Baritan tidak hanya terletak pada makanan yang disajikan, melainkan pada proses interaksi antardesa sebelum hari pelaksanaan. Jauh-jauh hari sebelum malam satu Suro tiba, seluruh elemen masyarakat dipastikan terlibat aktif dalam persiapan fisik maupun nonfisik.

"Masyarakat Jawa itu dalam kehidupan sehari-hari selalu mengutamakan hidup rukun dan kebersamaan. Bahkan di desa, gotong royongnya masih kental sekali. Sebelum acara Baritan, warga biasanya berkumpul dan kerja bakti bersama membersihkan seluruh lingkungan kampung," ujar Mbah Sapar.

Mbah Sapar juga mengisahkan memori masa lalunya mengenai sistem gotong royong yang rapi di pedesaan Jawa, di mana setiap kepala keluarga mendapatkan tanggung jawab fisik secara spesifik. Pola-pola pelestarian fasilitas publik secara komunal ini melekat erat sebagai memori kolektif yang dirindukan kaum urban.

"Dulu itu ada bagiannya sendiri-sendiri, per orang dapat jatah membersihkan parit atau jalan berapa meter, ada patok namanya. Tradisi perkumpulan atau menggelar acara adat seperti ini kental sekali di Jawa, yang membuat kita sering rindu masa-masa kecil dulu," kata Mbah Sapar dengan penuh nostalgia.

Melalui ruang interaksi, dialog ini berhasil mengaitkan benang merah pelestarian tradisi dengan perkembangan infrastruktur desa modern. Kebersamaan masyarakat dinilai kian kokoh seiring dengan meratanya pembangunan di kawasan pedesaan saat ini.

"Kemarin habis mudik melihat alhamdulillah jalan-jalan di pelosok perdesaan sekarang sudah mulus dan dicor semua dengan adanya dana desa. Dengan infrastruktur yang baik, kita berharap anak cucu kita nanti bisa tetap mempertahankan dan melestarikan warisan budaya Baritan ini agar jangan sampai hilang," katanya di akhir dialog.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....