Tantangan Regenerasi Musik Tingkilan Kutai ditengah Era Digital

  • 28 Jun 2026 13:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Regenerasi pemusik tradisional menjadi tantangan krusial yang dihadapi oleh komunitas pelestari adat di Kalimantan Timur saat ini. Minimnya minat generasi muda untuk mempelajari instrumen musik etnik seperti gambus dan ketipung dikhawatirkan dapat memutus rantai pewarisan kebudayaan Kutai yang autentik.

Fenomena kelangkaan regenerasi seniman bahari ini menjadi diskusi dalam segmen siaran Pantas Kutai pada 17 Juni 2026 bersama dengan Busu Irwan dan Busu Ipay sebagai narasumber. Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya keterlibatan aktif lingkungan keluarga seniman sebagai benteng pertama penyelamatan seni daerah.

Seni musik Tingkilan yang menggabungkan petikan gambus, tabuhan ketipung, serta lantunan syair atau pantun Kutai memerlukan keterampilan khusus. Mempelajarinya tidak hanya butuh kepekaan nada, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap sastra lisan Kutai yang sarat makna spiritual dan sosial.

"Memainkan gambus tingkilan itu beda dengan gitar modern, ada teknik petikan khas dan penjiwaan yang harus didapatkan langsung dari pengalaman melihat para tetua bermain," ujar praktisi musik Kutai sekaligus ketua Orkes Tingkilan Tepian Mahakam, Busu Irwan.

Menurut Busu Irwan, digitalisasi sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang besar untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan metode belajar Tingkilan agar lebih mudah diakses oleh anak muda di perkotaan maupun pedalaman.

"Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengemas musik tingkilan ini agar menarik di mata anak muda tanpa menghilangkan pakem atau keaslian ketukan baharinya. Media seperti YouTube dan radio digital ini sangat membantu kita membuka mata mereka," ujarnya secara teknis.

Keluarga mendiang Ahmad Sofyan menjadi salah satu contoh nyata bagaimana proses pewarisan seni dapat berjalan konsisten secara turun-temurun melalui teladan langsung di lingkungan domestik.

"Kami di keluarga terus berupaya mengajarkan anak-anak kecil di rumah untuk minimal mengenal dulu suara alat musiknya. Harapan kami, langkah kecil dari lingkungan keluarga ini bisa memicu lahirnya penggambus-penggambus baru di tanah Kutai," kata Busu Ipay di akhir dialog.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....