Mandi Tian Mandaring: Merawat Tradisi Sakral Tujuh Bulanan Suku Banjar

  • 27 Jun 2026 11:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kelestarian adat istiadat suku Banjar terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda di tanah rantauan Kalimantan Timur. Melalui ruang udara, ritual dan nilai filosofis peninggalan leluhur dikupas tuntas sebagai upaya merawat identitas kultural di tengah gempuran modernisasi dunia digital.

Salah satu tradisi yang diangkat kembali ke permukaan adalah Mandi Tian Mandaring, sebuah ritual sakral tujuh bulanan bagi perempuan Banjar yang baru pertama kali mengandung. Tradisi ini dibahas secara mendalam dalam program Pantas Banjar yang disiarkan pada Jum'at, 19 Juni 2026.

Ritual ini bukan sekadar mandi biasa, melainkan sebuah siklus kehidupan yang sarat akan doa, simbol keselamatan, dan harapan agar proses persalinan kelak berjalan lancar. Prosesinya melibatkan berbagai ubarampai khusus seperti mayang pinang, air bunga, hingga kain berlapis-lapis.

"Mandi Tian Mandaring ini wajib dilakukan khusus untuk anak pertama yang dikandung, saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan. Tujuannya adalah membersihkan diri secara lahir dan batin, sekaligus memohon keselamatan bagi ibu dan janinnya," ujar narasumber siaran, Acil Mila.

Dalam pelaksanaannya, ibu hamil yang akan dimandikan biasanya didudukkan di atas tempat khusus yang dikelilingi pagar bambu atau hiasan janur. Prosesi ini juga melibatkan pembacaan doa-doa selamatan oleh para sesepuh adat dan keluarga terdekat.

"Kain yang digunakan untuk membungkus tubuh ibu saat mandi pun berlapis-lapis, biasanya sampai tujuh lembar kain tradisional. Setiap lapisan memiliki makna simbolis tersendiri tentang kesiapan mental orang tua baru," ujar Acil Mila menambahkan saat menjelaskan detail perlengkapan ritual.

Melalui program Pantas Banjar, RRI Samarinda berkomitmen menjadi wadah edukasi budaya yang efektif. Mengingat banyaknya warga keturunan Banjar yang menetap di Samarinda, ulasan mengenai tradisi ini diharapkan mampu memicu kesadaran kolektif untuk tidak melupakan akar budaya asal.

"Kami berharap ulasan seperti ini membuat anak-anak muda suku Banjar di perantauan tetap tahu bahwa kita punya tradisi yang sangat indah dan penuh doa baik. Jangan sampai tradisi Tian Mandaring ini hilang karena kita tidak pernah menceritakannya lagi," kata Acil Ewwi di akhir segmen siaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....