Mengenal Ritual Ojung Banyuwangi: Ritual Cambuk Rotan dari Jawa Timur

  • 20 Jun 2026 21:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pelestarian budaya daerah tidak lagi terbatas pada batas-batas geografis wilayah asalnya. Di tengah modernisasi dan arus urbanisasi yang kuat, masyarakat perantauan asal Jawa Timur di Kalimantan Timur membuktikan bahwa identitas kultural tetap dapat dijaga dan disebarluaskan, salah satunya melalui media penyiaran publik yang menjembatani ruang rindu antarkomunitas.

Melalui program siaran interaktif Pantas Jawa (Pesona Antar Komunitas Jawa) yang mengudara di Pro 4 RRI Samarinda pada Kamis, 11 Juni 2026, tradisi sakral seperti ritual Ojung dari kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, diangkat menjadi topik hangat. Upaya ini memicu dialog budaya yang melintasi pulau, menyatukan para perantau, serta mengedukasi masyarakat lokal Samarinda mengenai keragaman budaya Nusantara yang berada di sekeliling mereka.

Tradisi Ojung atau Ajung sendiri dikenal sebagai ritual kuno berupa pertarungan adu cambuk rotan antara dua pria tanpa mengenakan baju. Tradisi ini memiliki nilai filosofis dan sejarah yang sangat kuat bagi masyarakat agraris. Ritual yang mulanya lahir dari sebuah peristiwa pertikaian nyata di tengah musim kemarau panjang tersebut, kini telah bertransformasi menjadi sarana olahraga tradisional, tolak bala, sekaligus ekspresi rasa syukur kepada Sang Pencipta.

"Cerita awalnya memang perkelahian betulan saat warga antre air di musim kemarau panjang. Namun, di tengah sabet-sabetan kayu dan rotan itu, cuaca langsung berubah mendung dan hujan pun turun lebat. Sejak itulah peristiwa tersebut diangkat menjadi ritual permohonan hujan secara turun-temurun," ujar Mbah Sapar saat menjadi narasumber siaran.

Mbah Sapar menegaskan bahwa meskipun Ojung melibatkan kontak fisik yang keras, jalannya ritual saat ini diikat oleh sportivitas yang tinggi dan aturan yang sangat ketat untuk menjamin keselamatan. "Sekarang sudah ada aturan main dan dipimpin oleh wasit. Setiap pemain memiliki jatah memukul dan menangkis masing-masing tiga kali. Sasaran pukulan pun dibatasi, tidak boleh mengenai kepala, melainkan hanya punggung bagian bawah hingga betis," katanya menambahkan saat menjelaskan teknis ritual di hadapan para pendengar.

Masih seputar tradisi Ojung tersebut, pelaksanaan ritual ini tidak hanya ditemukan di Banyuwangi, melainkan tersebar luas di beberapa wilayah Jawa Timur lainnya seperti Situbondo hingga Pulau Madura. Seiring berjalannya waktu, fungsi Ojung bergeser dari yang awalnya murni ritual magis pemanggil hujan, kini menjadi warisan budaya takbenda (WBTb) kebanggaan Indonesia yang kerap disajikan dalam festival budaya dan bersih desa.

Eksistensi Ojung membuktikan bahwa kekerasan fisik dalam tradisi peninggalan leluhur dapat diredam menjadi sebuah seni pertunjukan yang sarat akan nilai persaudaraan. Nilai-nilai gotong royong dan keteguhan hati para pemain di arena cambuk inilah yang terus digaungkan agar esensi sakral spiritual dari Ojung tetap hidup dan dipahami oleh generasi muda, meskipun mereka berada jauh di tanah rantau.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....