Slogan Trigatra Bangun Bahasa, Gen Z Diimbau Tidak Malu Berbahasa

  • 17 Mei 2026 08:23 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjaga kehormatan suatu bangsa dapat tercermin dari bagaimana masyarakatnya memperlakukan bahasa nasional dan bahasa daerah mereka sendiri. Di tengah arus globalisasi yang membawa pengaruh budaya dari luar, generasi muda Indonesia diimbau untuk memegang teguh komitmen kebahasaan. Salah satu pilar utama yang menjadi pedoman dalam bergerak adalah slogan Trigatra Bangun Bahasa.

Slogan yang berbunyi "Utamakan bahasa Indonesia; lestarikan bahasa daerah; kuasai bahasa asing" ini merupakan formula ideal untuk membentuk generasi muda yang berwawasan global namun tetap berakar kuat pada budaya bangsa. Penguasaan ketiga elemen bahasa tersebut secara seimbang akan memberikan jaminan bagi anak muda untuk mampu bersaing di kancah internasional tanpa kehilangan jati dirinya.

Namun, dalam praktiknya di lapangan, banyak anak muda yang merasa takut dan minder untuk belajar atau menggunakan bahasa secara aktif. Ketakutan ini sering kali dipicu oleh munculnya fenomena "polisi bahasa" di media sosial, yaitu netizen yang gemar merundung atau menyalahkan kesalahan tata bahasa secara berlebihan.

Muhammad Zaini Ghoni, Pemenang IV Putra Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, memberikan pesan motivasi yang kuat kepada rekan-rekan sesama Gen Z agar berani mendobrak rasa malu dan mengabaikan komentar negatif demi proses belajar yang berkelanjutan.

"Jangan malu berbahasa daerah, jangan malu berbahasa Indonesia, juga jangan malu berbahasa asing. Karena kita semua punya hak yang sama untuk belajar," ujarnya dalam program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, Selasa 5 Mei 2026.

Semangat untuk terus belajar tanpa rasa takut salah ini menjadi modal penting agar bahasa daerah tidak punah dan bahasa asing dapat dikuasai dengan fasih sebagai alat diplomasi di era modern.

Ia menekankan, masa depan bahasa Indonesia sepenuhnya berada di pundak para pemuda generasi sekarang. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi mekanis, melainkan representasi dari harga diri sebuah bangsa yang besar.

"Perlu kita ingat bahwa bahasa adalah marwah bangsa. Jadi, siapa lagi yang akan menjaga marwah atau kehormatan bahasa sebagai identitas bangsa kita kalau bukan kalau bukan kita yang menggunakannya. Sebagai generasi muda, boleh banget nih untuk gaul dan mengikuti tren, tapi juga diingat bahwa sebagai generasi muda kita juga perlu memperhatikan etika berbahasa," ujar Afifah Amani, Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025.

Dengan komitmen bersama untuk mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing, Gen Z diharapkan mampu membawa bangsa Indonesia melangkah maju ke masa depan digital tanpa kehilangan marwah kebahasaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....